Minggu, 11 Januari 2009

SMS Do'a


Beberapa hari yang lalu, saya mencoba mencari inspirasi untuk tulisan saya. Sembari membolak-balik sebuah buku, tiba-tiba ide itu datanglah. Ide untuk meminta bantuan teman-teman saya untuk menyumbangkan pemikiran mereka dalam tulisan saya. Ide untuk bertanya kepada mereka lewat sms tentang suatu tema sebagaimana yang kadang-kadang saya lakukan ketika saya tidak ada kegiatan. Saya tulis satu pertanyaan, lalu saya kirim ke teman-teman saya. Dan beberapa saat kemudian, sms balasan dari merekapun berdatangan. Lalu sayapun asyik membaca jawaban-jawaban dari mereka yang beragam tentunya. Kadang-kadang saya tersenyum jika ada jawaban yang lucu, tapi pernah juga ada jawaban yang menegangkan. Ya, apapun jawaban mereka saya sangat berterima kasih karena mereka tidak mengabaikan saya, dan mereka telah menghibur dan memberikan kesenangan pada saya. Ya, ini memang keisengan yang menyenangkan. Akan tetapi keisengan ini bukannya tanpa arti melainkan juga memberi banyak pelajaran untuk saya. Dan, inilah sms pertanyaan saya (+) berikut sms-sms jawaban (-) dari mereka.


+: "Jika hari ini adalah hari terkabulnya do’a, maka apa yang kamu minta pada Allah? (hanya satu permintaan saja, tidak boleh lebih)".

(Noura Qalbi, 08-jan-09, 12:23 am)


-: "Menginginkan kehidupan yang sempurna...dgn ketrentaman lahir batin.. Jika pertanyaan tak balik, do'a dan harapan apa yang selama ini belum jadi kenyataan?"

(A.R., 12:38 am)


-: "Aku hanya pingin ketemu Tuhan".

(Kh., 12:40 am)


-: "Iman yang selalu menempel dalam jiwaku, namun ketidaksempurnaan seseorang berujung pada kelalaian yang terkadang lupa dari apa dia dijadikan. Sungguh aku berterima kasih, sampai detik ini aku masih diberi kesempatan untuk berdo'a".

(N.S., 12:42 am)


-: "Suami... untuk dunia dan akhirat. he3x"

(S.B., 12:42 am)


-: "Rabbunallah!"

(Mj.,01.21 am)


-: "Rabbana atina fid dunya khasanah wa fil akhiroti khasanah wa qina 'adzaban naar..."

(Nf., 01:24 am)


-: "Minta keridloannya Allah SWT".

(Hb.J.S., 01:24 am)


+: "Minta keridloan, sama minta hidayah agar bisa menuju dan melakukan hal-hal yang diridloi Allah SWT bagusan mana bib?"

(N.Q., 01.31 am)


-: "Katanya satu saja, terus kalau Allah sudah ridlo dgnnya pasti Allah akan memudahkan baginya untuk melakukan yang diridloiNya. Hadis mengatakan Kullan muyassarun limaa khuliqo lahu."

(Hb.J.S., 01.33 am)


-: "Bertemu denganmu di surgaNya. Klo mbak f3 apa?"

(L.B., 01:51 am)


+: "Amiin Insyaallah terkabul. Terima kasih sudah ingat aku dalam do'amu".

(N.Q., 01:55 am)


-: "Hamba minta akhir yang baik, khusnul khotimah".

(M.A., 04:07 am)


-: "Hanya satu, yaitu selalu dalam ridloNya".

(M., 04:24 am)


-: "Minta semua hari menjadi hari terkabulnya doa".

(Z.A., 04:32 am)


(Ya Insyaallah semua doa kita selalu dikabulkan oleh Allah, kapanpun kita berdoa. Dan tentu saja dengan caraNya).


-: "Maaf baru balaz... jujur ya 3, aku gak tahu kalau ditanya seperti ini, karena terlalu banyak keinginannn Tapi kalau pilih salah satu dan itu satu-satunya and terakhir Aq ingin Allah memberiku kehidupan yang baik dunia dan akherat".

(M., 04:46 am)


-: "Kalau kamu minta apa f3?"

(Z., 06:49 am)


-: "Aku minta kepada Allah agar aku bisa lulus cpns. Kalau kamu mintanya apa Fit?"

(S., 08:25 am)


-: "Meminta ampunan serta rahmatnya".

(A.M., 08:44 am)


+: "Satu saja".

(N.Q., 08:47 am)


-: "Ya, itu kan cuma satu kalimat".

(A.M., 08:51 am)


-: "Innallaha ma'ana".

(A.M., 09:37 am)


-: ''Aku pingin kebahagiaan buat seluruh keluarga kecilku. Sory baru balas, maklum ibu rumah tangga, banyak pekerjaan".

(S.R., 09:14 am)


-: "Maaf, sebagai hamba Allah sih husnoz zon aja, kalau setiap do'a kita selalu didengar dan dikabulkan olehNya. Kalau gak sekarang ya.. di lain waktu. Adakah hujjah bahwa hari ini diijabahi?"

(N.H., 09:50 am)


-: "Jika hari ini hari terkabulnya do'a kenapa hanya satu do'a? aku akan memanjatkan sebanyak mungkin".

(Al.,10:09 am)


(Ya shobat, panjatkanlah do'a sebanyak mungkin. Aku juga akan berdo'a untukmu)


-: "Aku hanya ingin rahmat dari Allah SWT, karena dengan rohmat tentu aku selalu dalam lindungan dan bimbingannya".

(M.R., 10:09 am)


-: "Q ingin kamu jadi istriku... gimana..?"

(Ns., 10:13 am)


-: "Karena Allah Ghony dan al-Mughny, maka saya ada dua permintaan saja. Berikanlah aku semua kebaikan di dunia dan akhirat. Kamu minta apa?"

(M.A., 9-Jan-09, 06:17 pm)


-: "Aku baru punya pulsa he3x. Aku ingin semua aktifitasku hari ini lahir batin mendapat berkah dari Allah. Aamiin... Pa kabar jeng?"

(D.O., 9-Jan-09, 06:57 pm)


Ya itulah sms-sms balasan dari teman-teman saya tentang do'a mereka. Dan terakhir sepertinya tidak adil kalau saya tidak menjawab pertanyaan balik dari teman-teman saya: "Kamu minta apa?" Dan jawaban saya adalah saya minta apa yang telah diminta oleh Rasulullah SAW. "Allahumma inna nas'aluka maa sa'alaka bihii habibuka sayyiduna Muhammad shallallahu 'alaihi wa aalihi wa shohbihi wa sallam" (Ya Allah kami meminta kepadamu apa yang sudah diminta oleh kekasihMu nabi Muhammad SAW). Amiin...


Hm.. kira-kira yang pernah diminta Rasulullah itu apa ya....? He..he.. banyak tentunya, tidak cuma satu saja. Dan yang jelas insyaallah semuanya adalah yang terbaik.


Oya, kalau anda, apa do'a anda?

Sabtu, 10 Januari 2009

Haji Sontoloyo

Ketika melihat gambar ini, saya jadi teringat dengan cerita masa kecil saya. Sejak kecil, saya memang akrab dengan cerita dan dongeng-dongeng. Ini bukan berarti saya (waktu kecil) adalah seorang anak yang rajin membaca buku, akan tetapi cerita-cerita itu mengalir dari mulut kakak laki-laki saya, kakek, pak lik dan pak de saya. Nah gambar yang di samping ini mengingatkan saya pada cerita tentang seseorang yang bernama Sontoloyo yang baru pulang naik haji . Nah pak Haji Sontoloyo ini adalah seorang yang lugu (baca: bodoh) tapi sok pintar. Ketika di Mekkah, dia melihat loh...kok di sana boleh sholat menghadap ke arah mana saja ya? baik itu barat, utara, timur ataupun selatan. Nah sepulang dari Mekkah, pak haji Sontoloyo yang sedang giat-giatnya beribadah ini -dengan keluguannya- berusaha untuk mempraktekkan ilmu tentang sholat yang dia dapat dari Mekkah itu. Jadinya ya... beginilah hasilnya. (he..he...)
(Lihat gambar!) Kata orang yang ada di sebelah pak haji Sontoloyo: "Aduh..! kok bau kentut ya..?"

Jumat, 26 Desember 2008

Bukti Cinta Sa'ad

Membaca kisah Sa’ad bin Abi Waqash membuat saya jatuh hati. Bagaimana tidak? Meskipun saya belum pernah melihat atau bertemu dengannya, akan tetapi pancaran keindahan pesona batinnya sungguh membuat saya tidak bisa tidak jatuh cinta kepadanya. Keteguhannya, keberaniaannya, kefasihan kata-katanya, kecintaannya pada Allah dan RasulNya, sungguh membuat hati saya tersentuh, terharu, terpesona dan jatuh cinta.

Kisah keislamannya sungguh menggambarkan keteguhan hatinya dalam memegang erat-erat tali agama Allah. Keislamannya yang ditentang oleh ibu kandungnya dengan sedemikian rupa sehingga menolak makan dan minum hingga jatuh sakit, kurus kering bahkan sekarat. Namun, apa yang diucapkannya? “Duhai ibu, sungguh aku mencintaimu akan tetapi Allah dan Rasulnya lebih kucintai. Seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu persatu dari tubuhmu, tetap tidak aku tinggalkan agamaku ini.” Dan akhirnya sang ibupun menyerah melihat keteguhannya.

Kemudian kisah perang Uhud sungguh menunjukkan keberaniannya dan kecintaannya pada Rasulullah SAW. Ia sediakan dadanya sebagai perisai guna melindungi Rasulullah dari bidikan anak panah kaum musyrikin Mekah. Sambil membidikkan anak panahnya, ia berkata:“Wahai Rasulullah, anak panah itu tidak akan mengenaimu. Kami akan mengorbankan diri kami agar engkau tidak terkorban.”
"ارم يا سعد... فداك ابى و امّى!"
“Panahlah wahai Sa’ad, ayah-ibuku sebagai tebusan untukmu!”
اللهم سدّد رميته و أجب دعوته
“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’a-doanya” Amin.

Kemudian saat perang Qadisiah dan Madain, saat sang asadullah (singa Allah) bersama pasukan muslim membebaskan rakyat persia dari perbudakan makhluk menuju penghambaan Khaliq, sungguh keberaniannya tak diragukan lagi. Kata-katanya yang diucapkan dengan gagahnya di hadapan panglima dan tentara-tentara persia sungguh menggetarkan hati dan menciutkan nyali mereka. Sa'ad berkata:
"جئتك بقوم يحبون الموت كما تحبون انتم الحياة"
“Akan aku datangkan kepada kalian, suatu kaum yang mencintai mati sebagaimana kalian mencintai hidup”

Kemudian, Sa'ad yang dianugerahi doa yang mustajab berkat do’a Rasulullah SAW., sungguh tak tak dapat mengelak orang yang terkena panah do’anya, baik dalam ketentuan (Allah) yang baik ataupun buruk. Banyak orang yang datang kepadanya sekedar meminta do’a untuk ketentuan mereka. Bahkan di waktu Sa’ad sudah berusia senja, di kala ia tak mampu lagi melihat sang surya (menjelang akhir hidupnya Sa’ad kehilangan kedua penglihatannya), masih saja mereka datang kepadanya untuk meminta do’anya yang memang mustajab. Hingga heranlah seorang anak muda dan bertanya: “Wahai paman Rasulullah, tidak pernahkah engkau berdoa untuk kesembuhan matamu?”. Dan engkaupun menjawab: “Duhai anak saudaraku, Ketentuan Allah lebih aku sukai dari pada penglihatanku. Pantaskah aku tidak menyukai apa yang disukai Allah untukku?’

Masyaallah! Sungguh jawaban Sa’ad telah membuktikan cintanya kepada Allah SWT. Ia tidak hanya melakukan apa yang disukai Allah (menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya) akan tetapi juga menyukai apa yang dilakukan Allah atasnya. Memang begitulah seorang pecinta. Seorang pecinta selalu rela (ridho) kepada Dia yang dicintainya. Di hadapan Dia yang dicintainya dirinya fana’ (tidak ada) dan karam. Yang ada hanyalah Dia.


Sepenggal Kisah Sa’ad dan ‘Umair bin Abi Waqash


Menjelang perang Badar, suasana semakin memanas. Kaum musyrikin Mekah sudah menabuh genderang perang, dan kaum musliminpun bersiap-siap menghadapinya. Tak ketinggalan pula dua orang kakak beradik ini.

Sa’ad : “ Adikku, saat ini kaum musyrikin Mekah sudah menabuh genderang perang, mereka mau menyerang kita. Kakak akan pergi berperang membela agama Allah dan RasulNya. Apakah engkau mau ikut?”

‘Umair : “Kakak,umair bukan banci. Umair adalah seorang laki-laki. Umair mau ikut berperang. Umair mau membela agama Allah dan RasulNya.”

Sa’ad : “Apakah engkau yakin adikku?”

‘Umair : “’Umair sangat yakin, kakak!”

Sa’ad : “Baiklah, kalau begitu, mari kita menemui Rasulullah SAW!”

Kemudian mereka berdua pergi menemui Rasulullah.

Sa’ad dan ‘Umair: “ Assalamu’alaikum wahai Rasulullah”

Rasululllah: ” Wa’alaikumus salam warohmatullah. Ahlan wa sahlan, selamat datang wahai paman-pamanku..!”

Sa’ad : “Wahai Rasulullah, kami berdua mau ikut berperang!”

Rasululllah: ”Wahai ‘Umair (Dalam bahasa Arab, kata ‘Umair adalah bentuk tashghir dari kata ‘Umar, yang berarti ‘Umar kecil), apakah engkau juga ingin ikut berperang? Engkau masih terlalu kecil (Saat itu usia ‘Umair sekitar 14 tahun) untuk pergi ke medan perang, sebaiknya engkau tidak usah ikut saja!”

Dengan serta merta ‘Umair menangis. Sambil terisak ia berkata:

‘Umair : “Wahai Rasulullah, ‘Umair bukan banci. ‘Umair seorang laki-laki. ‘Umair mau ikut membela agama Allah dan RasulNya, kenapa tidak boleh? Hik...hik...”

Mendengar dan melihat perkataan ‘Umair, akhirnya Rasulullah berkata:

Rasululllah: “baiklah ‘Umair, engkau boleh ikut berperang, berjihad membela Agama Allah dan Rasulnya. Baarokallahu lakuma”

Kemudian perang berkecamuk dengan dahsyatnya. Tiga ratus tentara muslim melawan seribu tentara kaum musyrikin Mekah. Perangpun semakin seru, tentara muslim berperang dengan gagah berani, tak ketinggalan pula dengan Sa’ad dan ‘Umair. Mereka sungguh tidak takut mati, karena bagi mereka mati syahid di jalan Allah justru merupakan sebuah harapan dan cita-cita. Dan akhirnya dengan bantuan tentara dari langit, kemenanganpun diraih oleh kaum muslimin. Kaum muslimin bersorak dengan gembira “Allahu akbar!...Allahu Akbar!”, sedangkan kaum musyrikin pulang kembali ke Mekah dengan menanggung luka dan malu yang tidak tertahan.

Sementara itu di tengah kegembiraan mereka, terlihat Sa’ad sedang berjalan dengan bergegas menghampiri Rasulullah SAW.

Sa’ad : “Bagaimana keadaanmu wahai Rasulullah?”

Rasululllah: ”Aku baik-baik saja Sa’ad. Oya, bagaimana dengan ‘Umair?”

Sa’ad : “Saya belum tahu wahai Rasulullah! Tadi kami terpisah. Baiklah, saya akan mencarinya.”

Kemudian Sa’ad mencari-cari bayangan adiknya di antara kaum muslimin, namun Sa’ad tidak menemukannya. Kemudian... “Maasyaallah!”, pekik Sa’ad terkejut melihat adiknya tergeletak di tanah. Sa’ad terperangah melihat begitu banyak luka di tubuh ‘Umair. Darahnya terus saja mengucur membasahi tubuhnya. Segera Sa’ad datangi ‘Umair, kemudian ia rengkuh tubuh adiknya itu dan ia letakkan dalam pangkuannya.

Sa’ad : “’Umair...’Umair...”

‘Umair : “Kakak... ‘Umair... baik-baik... saja. Tadi...’Umair... sudah berhasil... membunuh... orang-orang musyrik... yang menyerang kita. Lihatlah... pedang ‘Umair... kakak! Pedang ini... sudah ‘Umair pakai... untuk membela... agama Allah. Kakak,... bagaimana ... keadaan ...Rasulullah?”

Sambil berkaca-kaca, Sa’ad menjawab:

Sa’ad : “Sstt... ‘Umair, engkau jangan terlalu banyak berkata-kata! Rasulullah tidak apa-apa. Engkau... engkau juga tidak apa-apa kan?”

‘Umair : “Kakak, entahlah... sepertinya... ‘Umair... sudah... tidak kuat. Kakak, siapa... orang... di samping kakak?”

Sa’ad menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siap-siapa. Kemudian, Sa’adpun tidak kuasa lagi membendung air matanya. Air matanyapun jatuh mengalir di kedua pipinya.

‘Umair : “Kakak, orang... ini... mengajak... ‘Umair pergi... ke sana. Ke tempat... yang indah... itu. Kakak..., ‘Umair... ingin... ke sana. Ijinkan... ‘Umair ikut. Kakak... tidak apa-apa kan... ditinggal...’Umair?”

Sa’ad tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk, sedangkan air mata terus saja mengalir membasahi pipinya.

‘Umair : “Kakak..., tolong... sampaikan...salam ‘Umair... pada... Rasulullah. Katakan... ‘Umair ... cinta Rasulullah! Kakak..., ‘Umair... pergi... dulu. Laa...ilaaha...illlallah...Muhammadur...rasulullah...”

Dan ‘Umairpun menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan terisak Sa’ad berkata:

Sa’ad : “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Segala puji bagi Engkau ya Allah, yang telah mensyahidkan ‘Umair adikku. Selamat jalan syahid kecil. Sungguh pedangmu akan menjadi saksi. Dan darahmu akan menjadi kesturi (minyak wangi yang sangat harum baunya). Selamat jalan adikku, semoga Allah meridhoimu.”

Kamis, 25 Desember 2008

Lomba Balap ... Sepeda He..He..

Seperti biasa, sore kemaren saya mengaji bersama anak-anak. Setiap sore kami mengaji bersama di ruang rumah lantaipaling atas (lantai tiga) milik orang tua beberapa anak-di antara mereka. Tadinya ruang itu hanya berfungsi sebagai ruang bermain bagi anak-anak itu. Maklum oleh ayah mereka, mereka tidak diperbolehkan untuk bermain sembarangan di luar rumah. Maka dibuatkannyalah ruang bermain di dalam rumah mereka. Dan sekarang ruang itu tidak hanya berfungsi sebagai ruang bermain saja melainkan juga ruang mengaji. Dan yang paling saya suka, di sebelah ruang itu ada sebuah lapangan kecil yang beratapkan langit, matahari, awan dan juga bulan dan bintang-bintang di kala malam. Di lapangan itulah -sehabis ngaji- biasanya mereka bermain bersama-sama, dan permainan favorit mereka adalah bermain sepeda. Kadang-kadang saya ikut bermain bersama mereka dan kadang-kadang saya hanya menonton saja.

Sore kemaren, kebetulan saya membawa MP4 teman setia saya. Biasanya MP4 itu saya gunakan untuk mendengarkan murottal favorit saya. Ya, murottal Muhammad Thoha al-junayd yang sudah saya download semua dari situs Zanjabil. Kadang kadang saya juga dengerin lagu-lagu berbahasa jepang, india, inggris juga Indonesia, tapi itu sangat jarang. Dan sore kemaren, ketika mereka bermain-main sayapun asik mengambil video mereka. Saya menyuruh mereka berlomba, dan sayapun mengambil videonya. Dan kemudian terlintaslah dalam fikiran saya sebuah lomba yang lucu. Lomba apakah itu? Silahkan lihat saja sendiri...!

Rabu, 24 Desember 2008

Mengukirlah di Atas Batu!

Ada pepatah mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Artinya, bagaimana orang tua maka seperti itulah anak-anaknya. Walaupun pepatah ini tidak serta merta bisa digeneralisasikan (misal seorang pencuri maka belum tentu anaknya juga seorang pencuri), akan tetapi pepatah ini ada benarnya juga. Kita jangan berharap anak-anak kita akan menjadi anak yang soleh kalau diri kita juga tidak demikian. Kata hadis “Birru abaukum tabirrukum abnaaukum” artinya “Berbaktilah pada orang tuamu maka anak-anakmu akan berbakti padamu”. Anak-anak bagaikan pita kaset yang masih kosong maka dia akan merekam apa saja yang terlihat dan terdengar di sekelilingnya, terutama di lingkungan keluarganya dengan kita (orang tua) sebagai obyek rekamnya.

Seorang anak ajaib yang berasal dari Iran yang bernama Husein Thabathabai, yang hafal dan mengerti al-Quran pada usia yang sangat dini, mungkin ia tidak akan menjadi begitu kalau orang tuanya bukanlah seorang yang akrab dengan al-Qur’an. Sejak dari dalam kandungan sampai beranjak balita (terutama pada periode emas kecerdasannya yakni usia 0-3 tahun), ia terbiasa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari ibunya, ayahnya atau dari majlis-majlis al-Qur’an yang dihadiri oleh mereka (maklum orang tua Husain ini dua-duanya adalah seorang hafidz dan hafidzoh) sehingga ayat suci itupun kemudian terekam masuk dan disimpan dalam otak Husein kecil. Alhasil, orang tua Husein yang menyadari hal itu (kalau Husein ternyata bacaan ayat-ayat suci al-quran) kemudian mendidik Husein untuk menghafal al-Qur’andan mengajari artinya (dalan bahasa persi), dan Huseinpun mampu belajar dengan cepat karena ayat-ayat al-Qur’an ini sudah akrab dan terekam masuk dalam otak kecilnya. Dan yang terjadi kemudian adalah masyaallah... Ya memang, segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, akan tetapi sunnatullahnya orang tua Husein punya peran yang sangat besar di sana.

Dan kemudian, pengalaman saya sendiri, waktu kecil ibu saya sering mengajari saya doa-doa. Doa ketika akan tidur (yang panjang redaksinya), ketika ada petir, akan bepergian, membiasakan membaca sholawat ketika turun hujan dan lain sebagainya. Semua itu masih terekam kuat dalam otak saya dan juga masih saya baca sampai sekarang. Pepatah mengatakan belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, dalam artian tidak mudah lupa/hilang. Sedangkan belajar di waktu tua bagaikan mengukir di atas air, dalam artian mudah lupa dan hilang. Oleh sebab itu maka mengukirlah di atas batu! Tanamkan hal-hal baik pada anak kita! Sinarilah kalbu dan jiwanya dengan cahaya ilmu dan iman sebelum ia dikotori oleh dunia! Akan tetapi memngukirpun perlu keahlian, oleh sebab itu maka perbaikilah dan asahlah diri kita agar ukiran kita menjadi indah, bahkan sangat indah.