Minggu, 02 September 2012

Tantangan Jadi Menteri Pasca Ganti Hati

Resensi ini dimuat di Lampung Post, Minggu 2 September 2012

Judul buku    : Ganti Hati: Tantangan Jadi Menteri   
Penulis        : Dahlan Iskan
Penerbit     : PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan    : Pertama, 2012
Tebal buku    : 343 halaman
Harga buku    : Rp 64.800, -

SIAPA sangka Dahlan Iskan (yang sekarang menjabat sebagai menteri BUMN) ternyata pernah ganti hati? Tak salah, jika kondisi itu membuat dia harus mengaku jujur; merasa “sakit”. Tepat bulan Oktober 2011, saat presiden SBY menunjuknya menjadi (calon) menteri BUMN –menggantikan Mustafa Abubakar- ia pun tak menunjukkan ekspresi gembira. Padahal beberapa (calon) menteri lain yang ditunjuk presiden waktu itu tampak girang. Tapi dia malah menangis.

Jumat, 06 Juli 2012

Pesan Cinta dalam Sepucuk Angpau

Juara III lomba resensi buku Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah yang diadakan penerbit Gramedia

Judul buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis       : Tere Liye
Penerbit     : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan    : Pertama, 2012
ISBN        : 978-979-22-7913-9
Tebal buku : 512 halaman
Harga buku : Rp 72.000, -

SELAMA langit belum runtuh, tema tentang kisah cinta dalam literatur sastra –tidak bisa dimungkri-- tak akan pernah lekang dan usang untuk dikisahkan. Tema tentang kisah cinta akan selalu menarik dan memikat untuk dibaca, direnungkan bahkan dikenang sepanjang masa. Sebab tema tentang kisah cinta merupakan tema abadi dalam palung kehidupan yang tak lekang dimakan waktu dan dibatasi oelh ruang.

Rabu, 20 Juni 2012

Meraih Kekayaan dari 12 Pintu

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Rabu 20 Juni 2012

Judul buku  : The Richest Man in Town; 12 Aturan Mewujudkan Kekayaan
Penulis       : W. Randall Jones
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan     : Pertama, 2012
Tebal buku : 282 halaman
ISBN         : 978-979-22-7742-5
Harga        : Rp. 55,000

SEMUA orang ingin sukses dan kaya. Tapi tidak semua orang bisa mewujudkan harapan itu. Kenapa? Jawabannya, sederhana; mereka tidak memiliki cetak biru yang terbukti jitu dan rencana teruji yang bisa dijadikan petunjuk. Bahkan, mereka hampir tak punya akses bertemu orang-orang kaya. Maka, jalan untuk bisa meraih kekayaan itu pun dianggap muskil.

Sabtu, 05 November 2011

Menyingkap Tabir Reinkarnasi


-->resensi buku ini dimuat di Harian Pelita, Sabtu 5 November 2011


Judul buku : Silver Phoenix
Penulis : Cindy Pon
Penerjemah : Maria Lubis
Penerbit : Mahda Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2009
Tebal buku : 392 halaman
Harga : Rp. 57.800,-


Tak mudah menulis karya perdana yang langsung bisa memukau. Apalagi, tanpa ditunjang pengalaman sebelumnya. Tapi sebagai penulis debutan, Cindy Pon, pengarang kelahiran Taipei yang kini menetap di San Diego, California ini termasuk perkecualian. Novel Silver Phoenix, debut (awal) yang Cindy garap ternyata cukup menawan. Cindy mampu menghadirkan kisah yang mengalir, karakter yang kuat dan bahasa yang liris. Tak salah, majalah Booklist menetapkan Silver Phoenix sebagai salah satu novel dari sepuluh novel fantasi paling top.

Minggu, 11 September 2011

Dampak Baik Pikiran Positif

Resensi ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi Minggu 11 September 2011

Judul          : Memperbaiki Nasib: Terapi Mengendalikan Diri Agar Hidup Terus Lebih Baik
Penulis       : Dr. Ibrahim Elfiky
Penerbit     : Zaman, Jakarta
Cetakan     : Pertama, 2011
Tebal         : 190 halaman
ISBN        : 978-979-024-276-0
Harga        : Rp. 30.000,00

NASIB setiap orang sebenarnya berada di tangan mereka sendiri. Ironisnya, tak sedikit orang yang menganggap bahwa nasib mereka sudah digariskan suratan nasib dan tidak bisa diubah. Padahal di balik rentetan kehidupan yang dijalani oleh manusia, dia memiliki kesempatan dan peluang besar untuk menentukan masa depannya sendiri; mau jadi apa dia kelak atau ingin meraih apa. Lalu, bagaimanakan cara mengubah nasib agar hidup seseorang bisa berubah menjadi lebih baik?

Sabtu, 06 Agustus 2011

Dunia Sookie Tak Pernah Hening

Resensi ini dimuat di Harian Pelita, Sabtu 6 Agustus 2011

Judul buku : Dead Until Dark, A Sookie Stackhouse Novel
Penulis : Charlaine Harris
Penerbit : Penerbit Kantera, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal buku : 405 halaman
Harga : Rp. 49.900,-

Menjadi seorang telepat (dapat mendengarkan pikiran orang lain), sebenarnya merupakan sebuah anugerah. Sebab tidak semua orang diberi anugerah oleh Tuhan memiliki keistimewaan seperti itu. Apalagi, kalau kelebihan itu dikelola dan digunakan dengan baik, dan untuk tujuan kemaslahatan orang-orang yang membutuhkan, maka hal itu akan menjadi kelebihan yang luar biasa.

Sabtu, 30 Juli 2011

Absurditas di balik Wajah Rupawan


Resensi ini dimuat di Harian Pelita, Sabtu 30 Juli 2011


Judul buku     : Uglies
Penulis            : Scott Westerfield
Penerbit          : Matahati, Jakarta
Cetakan          : Pertama, 2010
Tebal buku     : 432 halaman
Harga              : Rp.63.000,-



“Tak ada kecantikan luar biasa yang tak memiliki kelemahan” (Francis Bacon, Essays, Civil and Moral, “Of Beauty”)

Kutipan yang ditulis Francis Bacon (1561-1626) di atas, tampaknya sangat tepat mengungkapkan isi novel ini. Walau bagaimana pun, kecantikan dan wajah rupawan tak akan pernah bisa tampil sempurna. Di balik kecantikan yang terlihat di permukaan, tak jarang menyimpan absurditas --dan rahasia. Absurditas di balik wajah rupawan itulah yang didedahkan Scott Westerfield dalam novel bertitel Uglies ini.

Sabtu, 25 Juni 2011

Konspirasi Politik dan Eksistensi Sebuah Keberanian

Resensi buku ini dimuat di Harian Pelita, Sabtu 25 Juni 2011

Judul buku : Moribito, Guardian of the Darkness
Pengarang  : Nahoko Uehashi
Penerbit      : Matahati, Jakarta
Cetakan      : Pertama, Oktober 2010
Tebal buku  : 342 halaman
Harga buku : Rp 58.500,-

AMBISI untuk berkuasa, sering kali membutakan hati nurani manusia dari peta kebenaran. Tak mustahil, segala cara pun lantas dilakukan. Demi meraih kekuasaan itu, seseorang bahkan tak segan-segan mengorbankan orang yang tak bersalah, menghianati saudara sendiri hingga berani melakukan pembunuhan. Ironisnya lagi, “nafsu” di balik ambisi itu pun bisa memercikkan sengketa dan penderitaan bagi orang lain –yang tidak berada dalam lingkaran kerajaan.

Minggu, 19 September 2010

Kisah Petualangan Pangeran Kecil

resensi buku ini dimuat di Jurnal Nasional, Minggu 19 September 2010

Judul buku : Moribito, Guardian of the Spirit
Pengarang : Nahoko Uehashi
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal buku : 349 halaman

HIDUP memang penuh misteri. Apa yang akan terjadi besok, sungguh tidak bisa diduga. Roda kehidupan terus berputar membawa perubahan nasib pada setiap manusia. Himpitan Ujian dan cobaan, tak dapat disangkal, selalu mewarnai kehidupan manusia, dan menggelindingkannya dari satu babak --kehidupan-- ke babak selanjutnya. Tidak salah, jika nasib seseorang bisa berubah tiba-tiba. Bisa jadi seseorang yang tadinya hidup dalam kemuliaan, tapi putaran nasib kemudian menyeretnya pada kehidupan yang penuh liku dan petualangan.

Minggu, 25 Juli 2010

Bertamasya ke Jepang Lewat Novel

resensi buku ini dimuat di Jurnal Nasional, Minggu 25 Juli 2010

Judul buku : Kisah Klan Otori: Heaven’s Net is Wide
Penulis : Lian Hearn
Penerjemah : Meithya Rose Prasetya
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal buku : 786 halaman
Harga : Rp. 99.000,-

SEBUAH prestasi yang mengagumkan! Mungkin, itulah ungkapan yang pas buat capaian Lian Hearn, Kisah Klan Otori. Sejak dirilis pertama kali, buku awal trilogi Klan Otori: Accross the Nightingale Floor (Australia: 2002) langsung “menyedot” perhatian pembaca. Tak heran, serial yang ditulis pengarang kelahiran Inggris yang bernama asli Gillian Rubinstein dengan riset panjang -mulai tahun 1993- ini, bisa menyabet berbagai penghargaan. Bahkan saat ini, Kisah Klan Otori –yang meliputi Heaven`s Net is Wide (prekuel), Across the Nightingale Floor, Grass for His Pillow, Briliance of the Moon (trilogi) dan The Harsh Cry of the Heron (sekuel)-- sudah terjual di 36 negara dan jadi best seller di seluruh dunia.

Sabtu, 25 Juli 2009

Online Pertamaku

Malam ini, aku mencoba membongkar-bongkar memoriku yang mengendap dalam kepingan peristiwa kurang lebih 10 tahun yang lalu, yakni tahun 1999. Tahun itu, aku baru mulai menapaki bangku kuliah, sekaligus tahun pertamaku mengenal dan menjelajah dunia internet. Ketika kepingan peristiwa itu berkelebat, aku pun tersenyum simpul, mengenang peristiwa yang telah terjadi 10 tahun yang lalu itu. Ya, peristiwa saat pertama kali aku membuat email dan mengirimkan pesan lewat email.

Sebenarnya, saat pertama kali membuat email, aku tak menemukan suatu hambatan yang serius atau cukup berarti. Karena selain aku cukup lumayan menguasai bahasa Inggris ~sebagai bahasa universal dalam internet~, aku juga ditemani oleh salah seorang temanku yang cukup jago dalam bermain internet. Yang lucu adalah saat mengirimkan pesan via email. Bagaimana tidak? Aku mengirimkan pesan via email kepada teman-teman sekelas kuliahku, yang hampir setiap hari aku temui. Lucunya lagi, isi pesanku itu sama sekali tidak penting. Jadi, hanya sekedar mencoba mengirim email saja intinya. Oya, email pertamaku adalah Sakura_15@lovemail.com. Alasanku memilih nama Sakura adalah karena aku sangat suka dengan bunga Sakura dan hal-hal yang terkait dengan negeri Sakura. Sedangkan underscore angka 15 yang menunjukkan tanggal kelahiranku, aku tambahkan karena aku tidak diperbolehkan memakai ID Sakura saja. And then, how about lovemail.com? Ha ha, silahkan tebak saja.

Setelah berkirim pesan via email, aku juga tertarik untuk mencoba dunia chatting, berkomunikasi secara maya dengan seseorang yang berada di belahan dunia sana. Dalam hal chatting, aku lebih tertarik untuk chat dengan orang yang berasal dari luar Indonesia. Ya, ada kesenangan dan tantangan tersendiri ketika aku mencoba berbicara bahasa asing dengan mereka. Akan tetapi pengalaman chat dengan orang asing tidak selalu menyenangkan. Pernah juga aku ditanya yang aneh-aneh. Kalau demikian, biasanya aku langsung kabur. Pernah waktu itu, baru saja mulai chatt tiba-tiba aku sudah ditanya, "What do you think about free sex?" Ho ho ho, tanpa aku jawab, langsung aja aku tutup kotak chatnya.

Pengalaman lucu saat chatting adalah ketika aku chat dengan orang Mesir via ICQ. Tentu saja meggunakan bahasa Arab. Lucunya, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, karena tulisan fontnya sangat aneh. Aku pun memintanya untuk berbicara bahasa Inggris saja. "Can you speak English?", begitu tanyaku padanya. Tetapi rupanya, dia tidak bisa berbicara bahasa Inggris. "Arabic" begitu jawabnya. Lalu ia pun kembali berbicara dengan font-font yang aneh. "La afham kalamuk" (aku tidak faham perkataanmu). Selanjutnya, ia membalas dengan bahasa Arab yang ditransliterasikan dengan huruf latin, "Min aina anti?" (dari mana asalmu?). "Ana min Indonesia" (saya dari Indonesia). Kemudian chatting kami pun berlanjut. Kadang, kalau aku sedang tidak online, maka dia pun meninggalkan pesan untukku. Oya, tentang font-nya yang aneh itu, setelah kufikirkan sekarang, aku membuat dugaan bahwa komputer yang dia pakai, juga program ICQnya, memakai settingan Arabic. Sehingga ketika tulisannya yang diketik dengan font Arab itu sampai di komputerku, maka berubahlah ia menjadi tulisan dengan huruf-huruf yang aneh, karena komputer yang kupakai tidak diset Arabic.

Pengalaman lucu yang lain adalah saat aku mengirimkan sms ke HP teman-temanku via ICQ. Dasar aku orangnya jahil dan iseng! Tentu saja, aku tidak memakai ID nama asliku, bahkan sering aku ganti-ganti. Kepada teman perempuanku aku memakai ID Joko, lalu aku pun mengirimkan sms untuk menggodanya. Aku tidak terlalu ingat sms apa yang aku kirimkan saat itu, juga sms balasannya. Yang jelas, saat itu aku tertawa-tawa dibuatnya. Oya, pernah juga aku ngisengin kakak angkatku, Deden namanya. Karena dia orang Sunda ~sedang aku tidak bisa bahasa Sunda" maka aku mengajak temanku yang bisa berbahasa sunda untuk menterjemahkan kata-kataku he he.

Ya itu adalah bagian dari pengalamanku saat aku masih kuliah dulu. Lain lagi dengan pengalamanku 7 bulan yang lalu, saat pertama kali aku membuat blog. Aku dilanda kebingungan. Sebenarnya bukan hal teknis (gaptek) yang jadi permasalahannya. Dari dulu, aku terbiasa belajar otodidak. Ya, "asal berani mencoba", itulah mottoku. Maka sebelum membuat blog, aku juga sudah mempersiapkannya. Aku beli buku tentang blog, lalu aku pun melahapnya. Yang jadi masalah adalah ketika blog itu sudah selesai kubuat. Aku disergap kebingungan. "Waduh, aku harus menulis apa nih?". Untuk lebih jelasnya, silahkan baca kutipan tulisan pertamaku berikut ini:

"Hari ini adalah hari pertama aku berkreasi dengan blogku. Agak bingung juga ketika tiba-tiba aku merasa seperti ditodong harus membuat tulisan untuk blogku ini. Terus terang saja, aku bukan orang yang pintar menulis, bahkan jauh dari pintar. Semalaman bisa jadi aku memegang pensil dan selembar kertas untuk menulis, maklum aku tidak punya komputer ataupun laptop, akan tetapi hasilnya bisa jadi hanya sebuah tulisan yang jauh dari bagus yang akhirnya kucorat-coret sendiri. "Hh... menulis itu memang tidak mudah!", begitu kataku berapologi."

Ya, aku memang bukan seorang yang pintar menulis, maka tidak akan kau dapati tulisan yang bagus dalam blogku. Akan tetapi aku yakin, suatu saat tulisanku pasti bagus. Kapan itu? aku tidak tahu. Ya, "asal berani mencoba". Walaupun begitu, banyak juga yang bilang kalau blogku ini cukup keren. Ya, menurutku juga begitu. he he. Di blogku ini aku juga mempublikasikan film pertamaku (Ayat-ayat Cinta 2). Sebuah film yang aku bintangi, sutradarai, edit dan produseri sendiri. Semua serba sendiri. Selain film, aku juga mempublikasikan rekaman audioku yang sedang bercerita. Sebenarnya itu adalah rekaman videoku yang sedang beraksi layaknya seorang pembawa acara di TV, tapi karena terlalu lama uploadnya (karena durasinya panjang) maka aku ganti menjadi audio saja.

Dan terakhir, ini adalah pengalaman pertamaku ikut lomba secara online. Aku tidak berharap untuk menang, karena aku pikir, pasti banyak penulis yang lebih jago dariku yang ikut lomba "ulang tahun ke-11 detikcom" ini. Ya, aku hanya turut berpartisipasi dan memeriahkannya saja. Akhirnya, selamat ulang tahun Detik. Semoga makin bersinar dan berjaya!


Tag: “ulang tahun ke-11 detikcom”

Jumat, 24 Juli 2009

Anak Kecil di Bus Kota

Hari ini, aku kembali teringat pada seorang anak kecil yang aku lihat dalam sebuah bus kota beberapa waktu yang lalu. Ya, seorang anak yang sempat membuatku merasa terkejut dan prihatin. Bagaimana tidak? Ketika aku -yang sedang duduk di jok paling depan di sebuah bus kota- sedang berkutat dengan peluh dan udara panas yang menyelimutiku di tengah terik mentari yang berposisi lurus di atas kepalaku, menunggu bus yang tak kunjung jalan, tiba-tiba terdengar bunyi gas mesin yang dimain-mainkan, yang sontak menggelitikku untuk menolehkan kepalaku untuk melihat ke arah jok supir yang tepat berada di sampingku.

Betapa terkejutnya diriku melihat seorang anak kecil setinggi anak kelas empat SD, berbaju lusuh, memegang sebatang rokok di sela-sela jari kirinya sambil sesekali menghisapnya, bersikap seperti layaknya sopir dewasa. sungguh pemandangan ini membuatku miris dan bertanya-tanya?

"Apakah gerangan yang terjadi dalam hidupmu nak, sehingga membuatmu menjadi begitu? Tak punyakah engkau orang tua? Tak adakah yang mengurusmu? Tak adakah yang menyayangimu?"

Beragam pertanyaan berkecamuk dalam benak dan pikiranku, membuatku teringat pada keponakan laki-laki kecilku yang sedang berada di rumah. Ya, walaupun ia sudah lagi tak punya ayah, namun masih ada keluarga dan orang-orang yang mengurusnya. Ia masih bisa bermain, belajar dan makan-minum tanpa harus menguras keringat, berpanas-panasan di jalanan atau bus kota untuk mengamen, menjadi kondektur ataupun sekedar menadahkan tangan mengharap belas kasihan dari orang-orang. Sungguh tak bisa kubayangkan seandainya dialah yang berada di posisi anak kecil itu.

Sejenak waktu berlalu, datanglah seorang laki-laki dewasa yang ternyata adalah sopir dari bus kota itu. Anak kecil itu pun menyingkir dari tempat duduknya. Bus kota yang sudah padat dengan penumpang itupun melaju. Kulihat anak kecil itu menarik uang dari para penumpang. Hm, rupanya anak kecil itu adalah kondektur dari bus kota itu. Ketika ia menarik uang dariku, kulihat mukanya, begitu keras. Tak ada muka yang lugu dan ceria selayak anak-anak kecil lainnya. Yang ada hanyalah seraup muka seorang lelaki dewasa yang keras di terpa badai dan gelombang kehidupan.

Tapi, dia bukanlah lelaki dewasa! Dia adalah anak-anak, seperti anak, cucu, adik, ataupun keponakan kita. Hanya saja bedanya, mereka tak punya orang-orang yang menyayangi, memperhatikan atau sekedar peduli pada nasib mereka. "Ah... betapa lemahnya diri ini, hanya bisa membatin saja. Tanpa berbuat apa-apa untuk menolong mereka". "Lalu siapakah orang yang kuat? dan dimanakah mereka? Ya, mereka ada di sana, hanya saja, mereka tidak peduli". "Jadi siapa yang peduli?" "Oh, sungguh aku ingin sekali menjadi kuat!"

Minggu, 10 Mei 2009

Cahaya Hati



Noura Qalbi, tahukah kau apa artinya? artinya cahaya hati. Tahukah kau apakah cahaya hati itu? ia adalah cahaya yang menerangi hati, yang karenanya hati menjadi terang... dan tenang (sakinah). Jadi apakah ia? ia adalah iman:-).

Ya, kita semua akan berjalan melewati sebuah tempat yang gelap (shiroth), kita butuh cahaya. Cahaya itu, hanya bisa kita peroleh di dunia. Bagi yang tidak punya cahaya, maka dikatakanlah kepadanya, "Kembalilah kau ke dunia, dan ambillah cahayamu di sana". Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa kembali ke dunia. Maka, sungguh beruntunglah orang yang punya cahaya, walaupun hanya berupa cahaya kecil yang kelap-kelip di jempol kaki. Dari pada tidak punya cahaya?

Terakhir...
Allahumma atmim lana nuuronaa
"Ya Allah, sempurnakanlah cahaya-cahaya kami"

Ahad, 10 Mei 2009

Minggu, 26 April 2009

Mengerjai Guru Cerdas


Al-Amas - Noura Qalbi
Ini adalah kisah tentang al-A’masy. Tahukah anda siapakah al-A’masy itu? Beliau adalah salah seorang tokoh periwayat hadis. Nah, begini kisahnya...

Sebagai seorang guru yang mendiktekan hadis, al-A’masy ini termasuk guru yang “killer”. Beliau sangat tidak suka kalau ada murid yang tidak sabar untuk bertanya. “Nanti juga saya terangkan..!”, begitulah kira-kira jawabnya. Namun, walaupun galak begitu, murid-muridnya ~yang haus akan ilmu itu~ sangat banyak, karena al-A’masy memang seorang guru yang luas dan dalam ilmunya. Akan tetapi, kehausan murid-muridnya akan ilmu itu ternyata tidak dibarengi dengan kedermawanan al-A’masy dalam mendiktekan hadis. Dengan kata lain, al-A’masy ini juga termasuk guru yang “pelit” dalam mendiktekan hadis. Jadi, dalam suatu pertemuan, hanya sedikit hadis sajalah yang didektekannya. So, hal ini membuat murid-muridnya ~yang haus itu~ menjadi tidak sabar.

Nah, di antara murid-murid yang tidak sabar itu ada yang berfikir, bagaimana caranya agar mereka bisa segera mendapatkan hadis yang banyak. Maka dengan memanfaatkan penyakit gurunya yang rabun senja ~yang membuat penglihatan gurunya kabur di kala gelap tiba, sehingga harus dituntun dan diantarkan ketika pulang mengajar~, disusunlah sebuah rencana...

Malam itu, sepulang dari mengajar, seperti biasanya al-A’masy dituntun oleh murid-muridnya untuk pulang. Namun kali ini, al-A’masy tidak diantar pulang, melainkan justru di bawa ke tengah padang pasir yang sepi...

“Loh, sepertinya ini bukan jalan pulang...”, kata al-A’masy.

“Memang benar guru, sekarang kita sedang berada di tengah padang pasir yang sepi. Maaf, kami sengaja menuntun guru ke sini. Kalau guru ingin kami antar pulang, maka segeralah diktekan hadis yang banyak kepada kami. Jika guru tidak berkenan untuk mendiktekan, maka dengan berat hati, kami terpaksa meninggalkan guru di sini”.

“O... begitu. Ya...ya...baiklah”, kata al-A’masy sambil manggut-manggut.

Lalu al-A’masypun mendiktekan hadis yang banyak kepada murid-muridnya itu, sampai mereka puas. Setelah selesai, maka seperti janjinya, mereka segera menuntun dan mengantarkan al-A’masy pulang. Sampai di rumah...

“Maaf guru, tadi kami sudah berlaku tidak sopan kepada guru...”

“Ya.. ya... tidak apa-apa..” kata al-A’masy.

“Oya...” sambung al-A’masy lagi, “Hadis-hadis yang tadi kudiktekan pada kalian itu... semuanya dhoif...”.

Hehe... waduh...! Kasihan sekali murid-murid al-A’masy itu. Mendengar perkataan gurunya, mereka yang tadinya sudah terlanjur senang:-) karena telah berhasil mendapatkan banyak hadis, segera berubah raut mukanya :-(. Wah padahal sudah capek-capek nulis... padahal sudah terlanjur senang.. tapi ternyata hadisnya... dhoif semua. Makanya.. guru cerdas kok dilawan..?! Weleh...:-)

Selasa, 21 April 2009

Arti Sebuah Gambar

Suatu sore,...

"Bu, tunggu sebentar ya... aku mau perlihatkan sesuatu..!"

Lalu tanpa bisa dicegah, anak perempuan kecil itu langsung saja beranjak bangkit lalu turun ke lantai dua rumahnya. Dalam hati, "Hm.. ini anak disuruh ngaji susah banget.., dari tadi "sibuk ceramah" terus hehe..". Sebentar kemudian dia sudah kembali dengan membawa buku gambarnya. Sambil tersenyum dan memperlihatkan gambarnya dia berkata:

"Bu, lihat deh gambarku..! Gambar ini ada artinya loh.. ibu tahu tidak?"

Kulihat gambar itu, beberapa kaligrafi lafaz "Allah" dalam beragam bingkai dan warna. Bingkai hati dan kotak, dengan warna merah, hijau dan biru.

"Ibu tidak tahu, memang apa artinya?"

"Bu guru di sekolah juga tidak tahu artinya. Waktu itu di sekolah kan disuruh bikin gambar, trus aku bikin gambar ini, trus dilihat sam bu guru. Tapi bu gurunya diam aja. nah, waktu di rumah aku kasih lihat gambarnya ke abi. Kata abi, "Wah bagus sekali gambarnya! Rodiah tahu tidak? ini ada artinya loh.. Ini artinya Allah itu sendiri, tidak ada yang menyamai. Warna merah ini artinya Allah berkuasa sendiri. Warna hijau ini, artinya... Allah kan sendiri, lalu Allah mencipta pepohonan. Dan warna biru itu artinya aku mengenal Allah dan ilmunya. Dan ilmu Allah itu sangat luas dan dalam seperti lautan". Begitu bu kata abi".

Wow! masya Allah... sungguh arti yang sangat dalam dan indah! Ya, Allah itu memang sendiri. Sendiri dalam mencipta, berkuasa.. sendiri dalam disembah, dituju dan dicinta. Tak ada yang menduainya ataupun menyamainya.

Hm.. aku jadi teringat dengan senandung yang suka dinyanyikan oleh nenekku waktu aku masih kecil dulu.

Gusti Allah iku siji...
Orak ono kang Madani...


(Jum'at 17 April 2009)

Dasar Anak-anak..!

Dasar anak-anak ...! (hm bingung aku harus menyebut mereka anak-anak apa..? nakal..? hm tidaklah... iseng..? usil..? atau... kreatif..??? mbohlah...)
Hm..mereka itu ya...seneng sekali... menirukan semua gerak-gerikku... bahkan batuk juga... bahkan ketika menegor salah satu diantara mereka juga... weleh...weleh...(kenapa anak-anak ini mirip ma gurunya ya..? hehehe...) Ya sudah... gak papa, bu guru gak marah kok, bahkan tersenyum hehe... tersenyum karena menemukan ide. Ya, bu guru duduk dengan rapinya...(wah.. mereka ikutan duduk ruapi!) lalu bu guru baca dengan semangatnya...(wah mereka juga semangat...bahkan lebih semangat). Ya, akhirnya muroja'ah hafalan anak kelas satu hari ini berakhir dengan suksesnya hehe...
Dan akhirnya... the end:-).

Note: Belajar Qiroati/Tahfiz di kelas 1C bersama anak-anak yang lucu: Fira, Puja, Salsa, Tsabita, Zahra al-Muhdor, Zahra Alatas, Safira, Noufal, Abi dan Vael.

(Senin, 13 April 2009)

Rabu, 01 April 2009

Kiai Ahsan

Beberapa waktu lalu saya membeli buku yang berjudul "Kaya Tapi Miskin". Ya, sebuah buku yang mampu mengocok perut saya dan membuat saya terpingkal-pingkal dengan cerita-cerita humornya yang tidak hanya lucu melainkan juga cerdas. Dan berikut ini adalah salah satu cerita yang membuat saya terpingkal-pingkal. Lebih terpingkal-pingkal lagi setelah saya rubah nama tokohnya menjadi nama seorang kiai gendeng yang berasal dari Palu hehehe...

Kesalahan Beranak Kesalahan


Bersama rombongan sesama anggota DPR, seorang kiai katrok dan ndeso mengadakan kunjungan ke luar negeri. Tentu saja mereka menginap di hotel yang cukup mewah dalam beberapa hari.

Setiap hari, seorang gadis karyawan di hotel itu menyapanya. "Good morning...". Karena mengira gadis itu menanyakan namanya, maka kiai itu menjawab, "Kiai Ahsan...". Gadis itu manggut-manggut penuh hormat. Kejadian itu berulang beberapa kali.

Pada malam terakhir, kiai Ahsan berfikir, "Besok aku akan menanyakan nama gadis itu. Masak dia mengetahui namaku sedangkan aku tidak mengetahui namanya". Keesokan harinya, sebelum gadis itu menyapa, kiai Ahsan mendahului menyapanya, "Good morning...". Dan gadis itu menjawab dengan sangat sopan , "Kiai Ahsan...".
Wkakakakakakakakakakak...
Maaf mbak Ninik, saya pinjam ketawanya. Sekali lagi ya.. Wkakakakakakakakakakak...)

Kamis, 26 Maret 2009

How to Wear Burqo'

Bagaimanakah cara memakai burqo/cadar? Hm, tahukah anda? Ternyata memakai cadar itu tak boleh "asal" pakai, melainkan ada trik khususnya. Apakah itu? Temukan jawabannya di film singkat saya berikut ini.


How to Wear Burqo - Noura Qalbi

Bagaimana? Anda sudah tahu triknya kan? Hehe..(^-^)

Rabu, 25 Maret 2009

Ayat-Ayat Cinta 2

Semalaman tidak tidur, hehe.. iseng banget! Bikin film.. dibintangi sendiri, disutradarai sendiri, diedit sendiri, diproduseri sendiri dan dihonorin sendiri hehe.. Semua serba sendiri. Hm.. tapi lumayan juga untuk karya perdana hehe..

Ayo..ayo.. saksikan..! Film Ayat-ayat Cinta 2


Ayat-ayat Cinta 2 - Noura Qalbi

Selasa, 17 Maret 2009

Perempuan Bercadar Itu ...

Part One
Ini adalah cerita tentang pengalaman pribadi saya menjadi perempuan bercadar selama beberapa jam hehe..
Ya, hari ini di sekolah saya diadakan acara Farabi Da Mair (Festival Arabi dan Maulid Fair), maka semua orang dianjurkan untuk memakai baju Arabi.

Aduh...baru juga sebentar nulisnya... kok udah males ya...
Ya udah, bersambung aja deh hehe...

Part Two

Hari ini (Jumat, 20 Maret 2009) ada teman yang begitu baik meminjamkan laptopnya pada saya, jadi malam (Sabtu) ini saya putuskan untuk menulis kisah lanjutan tentang perempuan bercadar.

Senin malam, 16 Maret 2009

Habis Isya’, saya baru pulang dari sekolah. Hhh… capek! Ya, mau gimana lagi? Begitulah resikonya jadi sie acara, harus menyiapkan segala sesuatunya untuk acara besok. Hm.. sebenarnya saya tidak mau jadi sie acara, tapi… mau gimana lagi? teman saya (yang jadi pejabat sekolah, juga yang meminjamkan laptopnya ini) memaksa. Ya, jadilah saya (perempuan sendirian hehe..) bekerja di antara bapak-bapak guru (sesama team) karena teman saya perempuan yang satu lagi sudah ijin pulang duluan sedari sebelum Asar tadi. Ya, untunglah saya tidak punya perasaan apa-apa terhadap bapak-bapak guru itu, sebab kalau tidak, waduh… bisa grogi saya dibuatnya hehe...

Sesampainya di rumah saya berfikir, besok jadi pakai cadar atau tidak ya? Hm.. pakai jajalah. Ya, sudah saya putuskan, besok pagi saya akan memakai cadar. Tapi karena saya tidak punya cadar, jadi harus pinjam dulu. Pinjam di mana? Hehe.. tentu saja di orang. Alhamdulillah… teman-teman saya banyak yang punya cadar, jadi tidak masalah. Hm..sebenarnya teman-teman saya ini bukanlah perempuan bercadar, akan tetapi mereka pernah memakai cadar. Karena beberapa alasanlah kemudian cadar itupun dilepas. So, jadilah malam ini, jam sembilanan lebih saya ajak teman kos saya yang baru saja pulang kerja untuk menemani saya pergi meminjam cadar. Sedang baju abaya (baju hitam ala Arab) dan kerudung lilitnya (yang juga berwarna hitam) saya sudah punya, jadi tak perlu pinjam lagi.

Selasa, 17 Maret 2009

Hari ini adalah hari pelaksanaan acara Farabi da Mair. Hehe…sepertinya agak malu juga pakai baju abaya ke sekolah. Sebenarnya saya sudah sering dan juga terbiasa memakai baju abaya, tapi itu di lingkungan sini, bukan di lingkungan sekolah. Ya, teman-teman saya (sesama guru) mayoritas bukanlah orang-orang Arab dan tidak hidup dalam budaya Arab, walaupun siswa-siswanya mayoritas orang Arab hehe.. Mereka tidak terbiasa dengan abaya kecuali hanya beberapa orang saja. Tapi biarlah… toh hari ini memang dianjurkan untuk memakai baju Arabi, jadi kalau saya pakai baju abaya begini ya…justru itu bagus hehe..

Ya, baju sudah dipakai, juga cadarnya. Hanya mata saya saja yang terlihat sedang yang lainnya gelap hehe... hitam maksudnya. Ya, dari atas sampai bawah semuanya serba hitam, tasnya juga, kecuali kaos kaki yang berwarna coklat, tapi itupun tidak terlihat karena tertutup baju dan sepatu. Selanjutnya bagaimanakah rasanya jadi perempuan bercadar? Hm.. sebentar lagi saya akan merasakannya, karena sudah saya putuskan, saya akan memakai cadar dari rumah tidak di sekolah.

Keluar dari pintu saya berjalan, hm.. sepertinya tidak terlalu berbeda. Apa yang saya lihat tetaplah sama seperti biasa, bedanya kali ini orang-orang tidak bisa melihat saya (hehe.. makhluk gaib kali ya…) maksudnya muka saya. Hanya saja memang saya merasa agak berbeda. Saya tidak ingin tangan saya terlihat, padahal biasanya juga terlihat. Maka saya berbuat sedemikian rupa agar tangan saya tertutupi. Hm..perempuan bercadar itu, apakah mereka biasanya memakai sarung tangan? Saya kurang tahu, tapi sepertinya begitu.

Sampai di ujung jalan, aduh…macet! Gimana nih…? Padahal sudah jam tujuh, bisa terlambat saya. Kalau tidak sedang memakai cadar begini mungkin sudah saya putuskan untuk naik ojek saja. Tapi sekarang saya sedang bercadar, mana ada perempuan bercadar yang naik ojek? Kalau naik ojek, itupun pasti ojek suami hehe.. Perempuan bercadar itu adalah perempuan yang terjaga dan menjaga diri (dari lelaki). Tidak boleh sembarangan, kalau tidak naik mobil/kendaraan pribadi maka biasanya naik taksi, itupun juga harus ditemani agar tidak beruzlah sama abang taksi hehe.. begitulah yang saya tahu dan lihat. So akhirnya saya putuskan untuk naik metro mini saja hehe… aduh…kok lama banget ya? Udah macet, pake lama lagi! duh repotnya kalau jadi perempuan bercadar yang tidak punya fasilitas sendiri hehe… Lagipula sepertinya juga jarang sekali ada perempuan bercadar yang naik metro mini. Para suami ataupun ayah, biasanya tidak akan membiarkan istri ataupun anak gadisnya berdesak-desakan ataupun ikhtilath bersama lelaki yang bukan mahrom. Jadi, alhasil kemudian banyak perempuan bercadar yang terkurung di rumah. Ya, mereka hanya boleh dan bisa keluar bila mendapat ijin dari suami ataupun ayah mereka saja. Ya, begitulah yang saya lihat pada perempuan bercadar yang ada di sekitar saya, yang kebetulan setiap hari saya berinteraksi dengan mereka karena setiap hari saya mengajar ngaji putra-putri/adik mereka.

Hm.. kalau menurut saya, sebenarnya cadar itu tidaklah membatasi perempuan. Nyatanya, walaupun bercadar dan berhijab aisyah ummul mu’minin tetap bias eksis dalam menyebarkan ilmu dan meriwayatkan hadis. Bahkan separuh agama berasal darinya. Tapi ya… memang sih, jadi perempuan bercadar itu agak repot hehe.. sampai mau ngojekpun (maksudnya naik ojek) tidak bisa. Padahal, tidak ada fatwa MUI yang menetapkan bahwa perempuan bercadar itu tidak boleh naik ojek hehe…tapi kalau tetap nekat naik ojek ya... waduh… apa kata dunia?

Ya, akhirnya metro minipun datang juga, tapi penuh. Hiks..hiks.. terpaksa saya harus berdiri. Aduh… kasihannya! Tapi sejurus kemudian ada seorang bule yang mempersilahkan saya duduk di sebelahnya, saya terima saja. Tapi aduh.. duduk sama lelaki begini kok gak enak sekali rasanya ya..! Apalagi bapak bule yang berada di sebelah saya ini beberapa kali melihat dan memperhatikan saya. “Kenapa pak? Belum pernah lihat orang bercadar ya?”, kata saya dalam hati. Dan sayapun memalingkan muka saya ke arah yang lain. Beberapa saat kemudian, “excuse me…”, kata saya. Alhamdulillah… akhirnya saya bisa turun dan terbebas dari bapak bule tadi hehe..

Sampai di sekolah, acara sudah dimulai. Aduh, ini sie acara kok terlambat datangnya ya? La ba’sa hehe.. kan dah ada teman-teman lain yang menghandlenya. Lagi pula ini acara milik semua, bukan hanya tanggung jawab sie acara saja, dan lagi pula saya bukan satu-satunya sie acara, jadi tanbah la ba’sa hehe. Kemudian sayapun langsung naik ke lantai dua menuju kantor ibu guru, urusan absen belakangan saja. Di koridor sekolah lantai dua saya bertemu dengan dua orang ibu guru yang senyum-senyum melihat saya. “Bu Fitri ya?”. “Loh kok tahu?”. “Iya , dari jalannya. Makanya kalau jalan itu yang pelan, yang lembut”. Hehe.. aduh ibu gak tahu ya… saya ini mantan cewek tomboy. Jadi, saya memang sudah terbiasa jalan begini. Kalau dulu, wah.. lebih parah lagi, sama sekali tak ada lembut-lembutnya. Kalau jalan mirip lelaki, bajunya juga, hampir tidak pernah pakai rok, selalu saja pakai kaos dan celana. Hm.. ya udah, saya lembutin deh jalannya.

Di depan pintu ruang ibu guru, hehe.. pura-pura celingukan ah… pura-pura nyari siapa gitu. Hehe..semua pada lihat saya. Lalu sayapun masuk sambil tetap pura-pura celingukan, saya ajak salah seorang ibu guru salaman. Ibu guru yang saya ajak salamanpun bertanya-tanya wajahnya. Lalu, sambil tertawa sayapun membuka cadar saya hehe…”Aduh bu Fitri… saya kira tadi siapa? Kalau orang tua siswa… sepertinya bukan. Saya kira tadi anak kelas enam siapa itu…yang suka usil?”.

“Bu Nil… ini sudah saya bawakan baju dan cadarnya, katanya mau pakai”.

“Aduh, bu Nil… sebenarnya saya malu loh pakai cadar. Tapi kalau tidak dipakai, saya juga malu pakai baju begini, jadi ya… dipakai aja cadarnya hehe…”

“Sebaiknya dipakai tidak ya…cadarnya?”

“Ya udah, saya turun dulu ya…”

Di samping tangga, bertemu dengan Vava anak kelas dua yang berwajah imut mirip boneka.

“Bu Fitri ya? masa ini bu Fitri? Pasti bukan?” kata Vava sambil salaman.

“Iya Vava, ini memang bu Fitri”

“Ah.. bukan, pasti bukan” katanya sambil berlalu.

Hm.. kenapa Vava tidak percaya ya? Tapi hebat juga dia bisa mengenali saya. Sampai di bawah, bertemu dengan anak-anak kelas enam.

“Bu Fitri ya?”

“Eh…bu Fitri.. Assalamu’alaikum bu..”, kata mereka sambil salaman.

Aduh, kok anak-anak bisa tahu sih? Padahal kan sudah dilembutin jalannya.

“Kok kalian bisa tahu sih?”

“Iya, bu. Dari matanya”

Wah, hebat sekali mereka, bisa mengenali orang hanya dari matanya saja. Padahal, saya sendiri kalau bertemu dengan perempuan bercadar yang saya kenal, saya belum bisa mengenali mereka sebelum mereka bersuara.

“Bu Fitri dah dapat snack belum? Ini snack buat bu Fitri” kata bu Tating yang kali ini kebagian tugas menjadi sie konsumsi.

“Makasih bu…hehe.. saya memang lapar, belum sarapan”.

Aduh, ini gimana nih makannya? Hehe.. ya sudah... masuk ruangan kelas saja, lepas cadarnya, trus makan. Hm.. ternyata perempuan bercadar itu juga tidak bisa makan sembarangan ya..? Repot sekali kalau makan dengan tetap memakai cadar. Saya jadi membayangkan, bagaimana ya.. perempuan bercadar kalau makan di restoran? Hm.. sepertinya lucu dilihatnya. Jadi apakah perempuan bercadar itu memang makhluk “domestik” yang hanya bisa bebas makan kalau berada di ruangan yang aman saja? Hm..kalau minum sih bisa diakalin pakai sedotan, tapi makan…? Ah… ini kan Cuma urusan makan saja, lagi pula kalau makan itu memang sebaiknya di ruangan tertutup, agar orang lain tidak ngiler dibuatnya hehe..

Di dalam ruangan ada bu Nita, “Aisyah…Fahrinya mana?”, kata beliau sambil tersenyum. “He..he…”, cuma itu jawaban saya. Hm.. tadi di ruang ibu guru juga ada yang berkata begitu, dan selanjutnya nanti juga ada yang berkata lagi seperti itu. Ya, memang tidak dipungkiri, film Ayat-ayat Cinta (juga novelnya) turut berperan penting dalam mempopulerkan cadar/burqo’ di Indonesia.

Saat makan tiba-tiba ada Ipeh dan Rasya (anak kelas enam) datang menghampiri, “Bu Fitri pakai cadar ya… mana? Hehe..ibu kan guru agama, jadi bagus bu hehe.. ayo bu tos..”. Dan sayapun tos dengan mereka hehe. Selanjutnya…

“Bu pinjam cadarnya ya…”, kata Rasya, anak kelas enam yang suka usil itu.

“Ya, tapi jangan lama-lama ya… Nanti cepet kembaliin lagi”.

He..he.. si Rasya ngapain ya? Hm.. bisa saya terka, dia memakai cadar itu di depan teman-temannya sambil tertawa-tawa. Beberapa saat kemudian diapun mengembalikan cadar itu kepada saya, dan sayapun memakainya lagi. Di luar (auning) masih berlangsung acara drama anak-anak yang cukup seru dan cukup menyedot perhatian anak-anak, guru dan tamu undangan. Di antara mereka semua, tidak banyak orang yang memakai cadar, hanya beberapa anak saja hehe.. Guru-guru yang lainpun, tidak ada yang memakainya. Ya, hanya sayalah yang ke-PeDe-an memakainya. Tentang hal ini, dari awal saya sudah tahu, tapi biar saja ah…

Di atap auning ada dua ekor unta juga matahari (replika) yang tergantung di sana. Hm…rasanya dua ekor unta itu sudah menyedot habis semua air yang ada, bahkan yang ada di udara. Dan matahari yang tergantung hanya beberapa meter di atas kepala rasanya semakin menambah panas saja. Dan sayapun jadi kegerahan. Hm.. dibuka aja ah cadarnya hehe… Ya, rupanya masalah selanjutnya bagi perempuan bercadar adalah “gerah”. Akan tetapi, masalah itu mungkin tidak akan lagi jadi masalah kalau sudah terbiasa. Ya, seperti jilbab, banyak orang-orang yang tidak berjilbab berkata: “Apa tidak kegerahan?”. Jawabannya tentu: “Gak tuh, biasa aja”. Demikian juga cadar, kalau sudah terbiasa mungkin sudah tidak gerah lagi, bahkan kalau sudah terbiasa mungkin rasanya akan sangat tidak enak bila tidak memakai cadar. Jadi selanjutnya, apakah kamu akan bercadar Fit? Untuk saat ini tidak, tapi nanti… tidak tahu. Yang jelas cadar itu banyak sekali konsekwensinya. Dan yang jelas lagi masyarakat kita juga belum siap dengan cadar. Ya, mungkin saja kalau saya tinggal di suatu daerah yang labudda harus bercadar, atau yang masyarakatnya sudah “berbudaya” cadar, atau suami saya (hehe..) menyuruh saya untuk bercadar, mungkin saja saya akan menjadi “perempuan bercadar”.

Di panggung, acara drama sudah selesai, berarti selesailah sudah acara maulid. Acara selanjutnya adalah lomba-lomba Arabi, meliputi lomba cocok mufrodat, nasyid Arab, zikir mufrodat, hiwar dan debat mufrodat. Selain itu juga lomba mewarnai dan membuat kaligrafi. Untuk dua lomba terakhir ini dilaksanakan di kelas, sedang lomba-lomba yang lain dilaksanakan secara bergantian di atas panggung. Dan kalau rangkaian acara maulid tadi dipimpin oleh MC (anak-anak) dengan menggunakan bilingual Arab-Indonesia, maka acara lomba-lomba selanjutnya adalah giliran sie acara. Ya udah, biar bapak guru aja deh yang mimpin. Tapi selanjutnya, sepertinya bapak gurunya agak kabur dengan rangkaian acaranya. Maklum, dari awal sayalah yang lebih berperan dalam menset jadwal acara, tentu saja dengan petunjuk dari ketua pelaksanannya. “Bu Fitri aja deh yang lebih tahu…”, katanya. Ya udah, selanjutnya sayapun beraksi bagai MC professional yang gape bercuap-cuap di depan panggung. Hehe.. padahal saya tidak begitu. Tapi aduh.. by the way kok lama banget ya lombanya, padahal saya sudah capek nih... Maka sebelum acara berakhir, “Pak Muchlasin, untuk lomba debat mufrodat nanti bapak aja yang pimpin ya…”, kata saya pada pak Muchlasin, ketua pelaksana Farabi da Mair sekaligus guru bahasa Arab di sini. Beliaupun mengangguk. Alhamdulillah… selanjutnya sayapun naik ke lantai dua untuk makan dan istirahat.

Dan kembali pada perempuan bercadar. Perempuan bercadar itu…