Kamis, Desember 24, 2009

bertamasya ke Jepang lewat novel

resensi buku

Judul buku : Kisah Klan Otori: Heaven’s Net is Wide
Penulis : Lian Hearn
Penerjemah : Meithya Rose Prasetya
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal buku : 786 halaman
Harga : Rp. 99.000,-

SEBUAH prestasi yang mengagumkan! Mungkin, itulah ungkapan yang pas buat capaian Lian Hearn, Kisah Klan Otori. Sejak dirilis pertama kali, buku awal trilogi Klan Otori: Accross the Nightingale Floor (Australia: 2002) langsung “menyedot” perhatian pembaca. Tak heran, serial yang ditulis pengarang kelahiran Inggris yang bernama asli Gillian Rubinstein dengan riset panjang -mulai tahun 1993- ini, bisa menyabet berbagai penghargaan. Bahkan saat ini, Kisah Klan Otori –yang meliputi Heaven`s Net is Wide (prekuel), Across the Nightingale Floor, Grass for His Pillow, Briliance of the Moon (trilogi) dan The Harsh Cry of the Heron (sekuel)-- sudah terjual di 36 negara dan jadi best seller di seluruh dunia.

Novel Heaven’s Net is Wide ini –yang dirilis pertama di Australia (2007)- adalah buku pertama (dari lima buku) yang melengkapi dan mengakhiri kisah Klan Otori. Bagi yang belum sempat membaca Kisah Klan Otori, buku ini akan menghancurkan beberapa misteri yang ada pada buku selanjutnya. Tapi bagi pembaca lama Kisah Klan Otori, buku ini akan menjawab berbagai pertanyaan tentang Shigeru, kesatria yang menyelamatkan Takeo –tokoh utama dalam 4 buku serial Otori berikutnya— yang telah mengangkatnya jadi anaknya sekaligus pewaris klan Otori.

Bersetting masa feodal Jepang, Heaven’s Net is Wide ini mengisahkan perjalanan hidup Lord Otori Shigeru sejak berusia 12 tahun (kebetulan bertepatan dengan lahirnya Takeo) sampai ia bertemu dan menyelamatkan Takeo. Dilahirkan sebagai pewaris klan, Shigeru memperoleh pendidikan yang ketat. Shigemaru (ayah Shigeru) tak ingin Shigeru terjerumus pada kesalahan yang sama seperti dirinya, yang tak mampu mengendalikan hasrat birahi--, maka mengirimkannya ke guru Matsuda Singen di biara Terayama untuk digembleng secara fisik dan mental.

Di situ pula, pertama kalinya Shigeru bertemu dengan salah satu anggota Tribe –sebuah komunitas yang memiliki kekuatan supranatural warisan masa lampau yang tak dimiliki golongan kesatria- yang ia panggil “roh rubah” yang di kemudian hari diketahui sebagai Muto Kenji dan akhirnya jadi sahabatnya.

Suhu politik yang panas akibat dari ambisi Klan Tohan –musuh Klan Otori—untuk memperluas daerah, dan juga kekejaman Iida Sadamu (pewaris Klan Tohan) yang membantai kaum Hidden –sebuah sekte yang menyembah Sang Rahasia dan tak mau membunuh atau bunuh diri (bertolak belakang dengan ajaran ksatria)-- di wilayah Otori, membuat perang pun tidak terelakkan. Alih-alih mendapat kemenangan, penghianatan yang tak diduga justru mengakibatkan kekalahan telak. Lima ribu prajurit Otori tewas, termasuk Shigemaru (ayah Shigeru) dan Kiyosige (sahabat karib Shigeru).

Shigeru yang terluka parah pun bersiap bunuh diri, namun urung dilakukannya karena pedang legendaris Jato (Sang Ular) --perlambang pewaris Klan Otori-- datang pada dirinya (diantarkan oleh Muto Kenji). Shigeru yang terluka tidak serta merta bisa pulang ke Hagi. Hal itu dimanfaatkan oleh kedua paman Shigeru, Shoichi dan Masahiro untuk merebut kekuasaan. Kedua pamannya yang licik itu pun bersekutu dengan Klan Tohan. Demi menjamin keselamatan adiknya, Takeshi, Shigeru menyetujui penurunan dirinya sebagai pewaris Klan dan hidup sebagai orang biasa. Shigeru yang enggan bunuh diri dan memilih hidup sebagai petani, harus bersabar menerima berbagai penghinaan, bahkan dari ibunya sendiri. Tak ada yang tahu, dibalik kedok petaninya, Shigeru sedang menyusun siasat dan menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam.

Novel berlatar masa feodal Jepang karya pengarang yang tinggal di Australia ini memang fiksi, tapi tidak sepenuhnya mencabut akar sejarah Jepang. Keberadaan sekte Hidden (kristen) yang memang pernah ada dalam sejarah Jepang, tak luput dari sorotan Lian Hearn. Riset panjang (sejak tahun 1993) yang dilakukan penulis pengagum Haruki Murakami ini pun, membuat novel ini kental dengan budaya dan tradisi Jepang. Juga, kental akan nuansa sejarah Jepang, sehingga pembaca seakan dibawa bertamasya ke era Jepang abad pertengahan.

Tak pelak, jika buku ini menjadi masterpiece dari pengarang yang sudah menulis puluhan buku ini. Adapun kisah tragis Shigeru dalam novel ini, tak dipungkiri, bisa jadi lahir dari kegemaran sang pengarang akan kisah-kisah tregedi. Tapi, kepiwaian penulis dalam bertutur, membuat kisah tragis itu justru membuat pembaca hanyut dalam kisah sedih Shigeru.

Senin, November 30, 2009

Kisah Petualangan Pangeran Kecil

resensi buku

Judul buku : Moribito, Guardian of the Spirit
Pengarang : Nahoko Uehashi
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2009
Tebal buku : 349 halaman

HIDUP memang penuh misteri. Apa yang akan terjadi besok, sungguh tidak bisa diduga. Roda kehidupan terus berputar membawa perubahan nasib pada setiap manusia. Himpitan Ujian dan cobaan, tak dapat disangkal, selalu mewarnai kehidupan manusia, dan menggelindingkannya dari satu babak --kehidupan-- ke babak selanjutnya. Tidak salah, jika nasib seseorang bisa berubah tiba-tiba. Bisa jadi seseorang yang tadinya hidup dalam kemuliaan, tapi putaran nasib kemudian menyeretnya pada kehidupan yang penuh liku dan petualangan.

Demikianlah yang terjadi pada Chagum, seorang pangeran kecil berusia 11 tahun dari kerajaan New Yogo. Dalam semalam, perputaran nasib membawa perubahan yang drastis dalam hidupnya --dari pangeran menjadi rakyat jelata. Tak hanya itu, ia bahkan diburu untuk dibunuh --hanya karena ia terpilih jadi sang Moribito, penjaga Nyuga Ro Im (roh air). Padahal, pilihan itu tidak pernah dimintanya.

Sebagai seorang Moribito, dalam diri Chagum, tumbuh sebutir telur (gaib) Nyuga Ro Iim (roh air). Telur itu harus dia jaga --dari Rarunga, makhluk mengerikan pemakan telur dari alam Nayugu (gaib)— hingga menetas. Jika Chagum tak berhasil, alih-alih dia bisa selamat, kekeringan yang dahsyat pun akan melanda. Bukan hanya itu, keselamatan Chagum sendiri terancam oleh para pemburu suruhan sang Mikado, raja kerajaan New Yogo --yang tak lain adalah ayahnya sendiri-- demi kepentingan politis.

Dua kali Chagum mengalami percobaan pembunuhan -yang terkesan kecelakaan. Pembunuhan pertama, saat Chagum mandi di pemandian air panas. Sebuah batu besar dijatuhkan tapi tak mengenai Chagum. Pembunuhan kedua saat iring-iringan kekaisaran Chagum melewati jembatan Yamakage -jembatan untuk para bangsawan. Kerbau yang menarik keretanya dipanah hingga menjadi gila. Tubuh Chagum terlempar ke sungai. Untunglah Balsa, ahli tombak –seorang pengelana berusia 30 tahun- dari Kanbal sedang melintasi jembatan gantung (yang diperuntukkan untuk rakyat jelata) menyelamatkan Chagum.

Tetapi aksi penyelamatan itu ternyata membawa perubahan nasib mengejutkan bagi Balsa dan Chagum. Balsa -mau tak mau- harus menerima permintaan permaisuri kedua, ibu Chagum untuk jadi pengawal Chagum bahkan membawa Chagum kabur dari istana Ninomiya (tempat tinggal Chagum) agar selamat.

Setelah pergi dari istana, Chagum mengalami perubahan nasib yang drastis -dari seorang pangeran menjadi rakyat jelata. Ia mengembara bersama Balsa –dan ditemani Tanda, seorang penyembuh yang telah menjadi teman Balsa sejak kecil. Mereka bertiga pun mengalami petualangan menegangkan. Awalnya, Chagum yang manja dan angkuh, tak bisa menerima kenyataan itu. Ia yang terbiasa hidup enak, bahkan dipercaya sebagai keturunan Dewa, harus hidup menderita jadi rakyat jelata. Apalagi, rentetan peristiwa gaib yang terjadi pada dirinya -akibat pertumbuhan telur Nyuga Ro Im yang bersarang dalam tubuhnya- kerapkali membuatnya marah. Tak salah, ia kerap bertanya: mengapa dirinya yang tidak bersalah harus mengalami semua itu?

Tapi berkat bimbingan Balsa yang waktu kecil juga pernah mengalami perubahan nasib yang drastis seperti Chagum, Chagum bisa mengatasi kemarahannya. Ia kemudian tumbuh menjadi anak yang kuat, berani, jujur, dewasa dan penyayang.

Novel “epik fantasi Jepang” karya Nahako Uehashi -yang telah berhasil meraih penghargaan Bachelder Award 2009- ini mengangkat kisah dua dunia yang tersembunyi dari dunia lain. Nama karakter dan tempat, memang murni imajinasi. Tapi, cerita yang ada di novel ini dipengaruhi oleh budaya dan gaya hidup tempat kelahiran pengarang.

Saat ini, serial Moribito -yang secara keseluruhan ada 10 kisah- yang dimulai dari novel ini tak hanya berhasil merebut hati anak-anak dan orang tua di Jepang, melainkan sudah menyeberang ke Amerika, Italia, Taiwan dan Indonesia. Bahkan sudah dijadikan serial manga dan serial TV animasi. Hal itu karena novel karya pengarang yang tinggal di Chiba ini penuh daya pikat, sarat dengan kasih sayang, keberanian, kepahlawanan dan kebijaksanaan. Rangkaian kisahnya yang estetis tersaji dengan memikat sejak halaman pertama. Misteri yang disajikannya membuat pembaca semakin penasaran untuk terus membaca hingga halaman akhir.

Tak heran, jika novel ini sangat disukai para pembaca dari segala umur. ***
Keterangan: Tiga gambar (selain cover buku) adalah gambar serial moribito versi animasi yang diambil dari internet.

Sabtu, Juli 25, 2009

Online Pertamaku

Malam ini, aku mencoba membongkar-bongkar memoriku yang mengendap dalam kepingan peristiwa kurang lebih 10 tahun yang lalu, yakni tahun 1999. Tahun itu, aku baru mulai menapaki bangku kuliah, sekaligus tahun pertamaku mengenal dan menjelajah dunia internet. Ketika kepingan peristiwa itu berkelebat, aku pun tersenyum simpul, mengenang peristiwa yang telah terjadi 10 tahun yang lalu itu. Ya, peristiwa saat pertama kali aku membuat email dan mengirimkan pesan lewat email.

Sebenarnya, saat pertama kali membuat email, aku tak menemukan suatu hambatan yang serius atau cukup berarti. Karena selain aku cukup lumayan menguasai bahasa Inggris ~sebagai bahasa universal dalam internet~, aku juga ditemani oleh salah seorang temanku yang cukup jago dalam bermain internet. Yang lucu adalah saat mengirimkan pesan via email. Bagaimana tidak? Aku mengirimkan pesan via email kepada teman-teman sekelas kuliahku, yang hampir setiap hari aku temui. Lucunya lagi, isi pesanku itu sama sekali tidak penting. Jadi, hanya sekedar mencoba mengirim email saja intinya. Oya, email pertamaku adalah Sakura_15@lovemail.com. Alasanku memilih nama Sakura adalah karena aku sangat suka dengan bunga Sakura dan hal-hal yang terkait dengan negeri Sakura. Sedangkan underscore angka 15 yang menunjukkan tanggal kelahiranku, aku tambahkan karena aku tidak diperbolehkan memakai ID Sakura saja. And then, how about lovemail.com? Ha ha, silahkan tebak saja.

Setelah berkirim pesan via email, aku juga tertarik untuk mencoba dunia chatting, berkomunikasi secara maya dengan seseorang yang berada di belahan dunia sana. Dalam hal chatting, aku lebih tertarik untuk chat dengan orang yang berasal dari luar Indonesia. Ya, ada kesenangan dan tantangan tersendiri ketika aku mencoba berbicara bahasa asing dengan mereka. Akan tetapi pengalaman chat dengan orang asing tidak selalu menyenangkan. Pernah juga aku ditanya yang aneh-aneh. Kalau demikian, biasanya aku langsung kabur. Pernah waktu itu, baru saja mulai chatt tiba-tiba aku sudah ditanya, "What do you think about free sex?" Ho ho ho, tanpa aku jawab, langsung aja aku tutup kotak chatnya.

Pengalaman lucu saat chatting adalah ketika aku chat dengan orang Mesir via ICQ. Tentu saja meggunakan bahasa Arab. Lucunya, aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, karena tulisan fontnya sangat aneh. Aku pun memintanya untuk berbicara bahasa Inggris saja. "Can you speak English?", begitu tanyaku padanya. Tetapi rupanya, dia tidak bisa berbicara bahasa Inggris. "Arabic" begitu jawabnya. Lalu ia pun kembali berbicara dengan font-font yang aneh. "La afham kalamuk" (aku tidak faham perkataanmu). Selanjutnya, ia membalas dengan bahasa Arab yang ditransliterasikan dengan huruf latin, "Min aina anti?" (dari mana asalmu?). "Ana min Indonesia" (saya dari Indonesia). Kemudian chatting kami pun berlanjut. Kadang, kalau aku sedang tidak online, maka dia pun meninggalkan pesan untukku. Oya, tentang font-nya yang aneh itu, setelah kufikirkan sekarang, aku membuat dugaan bahwa komputer yang dia pakai, juga program ICQnya, memakai settingan Arabic. Sehingga ketika tulisannya yang diketik dengan font Arab itu sampai di komputerku, maka berubahlah ia menjadi tulisan dengan huruf-huruf yang aneh, karena komputer yang kupakai tidak diset Arabic.

Pengalaman lucu yang lain adalah saat aku mengirimkan sms ke HP teman-temanku via ICQ. Dasar aku orangnya jahil dan iseng! Tentu saja, aku tidak memakai ID nama asliku, bahkan sering aku ganti-ganti. Kepada teman perempuanku aku memakai ID Joko, lalu aku pun mengirimkan sms untuk menggodanya. Aku tidak terlalu ingat sms apa yang aku kirimkan saat itu, juga sms balasannya. Yang jelas, saat itu aku tertawa-tawa dibuatnya. Oya, pernah juga aku ngisengin kakak angkatku, Deden namanya. Karena dia orang Sunda ~sedang aku tidak bisa bahasa Sunda" maka aku mengajak temanku yang bisa berbahasa sunda untuk menterjemahkan kata-kataku he he.

Ya itu adalah bagian dari pengalamanku saat aku masih kuliah dulu. Lain lagi dengan pengalamanku 7 bulan yang lalu, saat pertama kali aku membuat blog. Aku dilanda kebingungan. Sebenarnya bukan hal teknis (gaptek) yang jadi permasalahannya. Dari dulu, aku terbiasa belajar otodidak. Ya, "asal berani mencoba", itulah mottoku. Maka sebelum membuat blog, aku juga sudah mempersiapkannya. Aku beli buku tentang blog, lalu aku pun melahapnya. Yang jadi masalah adalah ketika blog itu sudah selesai kubuat. Aku disergap kebingungan. "Waduh, aku harus menulis apa nih?". Untuk lebih jelasnya, silahkan baca kutipan tulisan pertamaku berikut ini:

"Hari ini adalah hari pertama aku berkreasi dengan blogku. Agak bingung juga ketika tiba-tiba aku merasa seperti ditodong harus membuat tulisan untuk blogku ini. Terus terang saja, aku bukan orang yang pintar menulis, bahkan jauh dari pintar. Semalaman bisa jadi aku memegang pensil dan selembar kertas untuk menulis, maklum aku tidak punya komputer ataupun laptop, akan tetapi hasilnya bisa jadi hanya sebuah tulisan yang jauh dari bagus yang akhirnya kucorat-coret sendiri. "Hh... menulis itu memang tidak mudah!", begitu kataku berapologi."

Ya, aku memang bukan seorang yang pintar menulis, maka tidak akan kau dapati tulisan yang bagus dalam blogku. Akan tetapi aku yakin, suatu saat tulisanku pasti bagus. Kapan itu? aku tidak tahu. Ya, "asal berani mencoba". Walaupun begitu, banyak juga yang bilang kalau blogku ini cukup keren. Ya, menurutku juga begitu. he he. Di blogku ini aku juga mempublikasikan film pertamaku (Ayat-ayat Cinta 2). Sebuah film yang aku bintangi, sutradarai, edit dan produseri sendiri. Semua serba sendiri. Selain film, aku juga mempublikasikan rekaman audioku yang sedang bercerita. Sebenarnya itu adalah rekaman videoku yang sedang beraksi layaknya seorang pembawa acara di TV, tapi karena terlalu lama uploadnya (karena durasinya panjang) maka aku ganti menjadi audio saja.

Dan terakhir, ini adalah pengalaman pertamaku ikut lomba secara online. Aku tidak berharap untuk menang, karena aku pikir, pasti banyak penulis yang lebih jago dariku yang ikut lomba "ulang tahun ke-11 detikcom" ini. Ya, aku hanya turut berpartisipasi dan memeriahkannya saja. Akhirnya, selamat ulang tahun Detik. Semoga makin bersinar dan berjaya!


Tag: “ulang tahun ke-11 detikcom