Selasa, 17 Maret 2009

Perempuan Bercadar Itu ...

Part One
Ini adalah cerita tentang pengalaman pribadi saya menjadi perempuan bercadar selama beberapa jam hehe..
Ya, hari ini di sekolah saya diadakan acara Farabi Da Mair (Festival Arabi dan Maulid Fair), maka semua orang dianjurkan untuk memakai baju Arabi.

Aduh...baru juga sebentar nulisnya... kok udah males ya...
Ya udah, bersambung aja deh hehe...

Part Two

Hari ini (Jumat, 20 Maret 2009) ada teman yang begitu baik meminjamkan laptopnya pada saya, jadi malam (Sabtu) ini saya putuskan untuk menulis kisah lanjutan tentang perempuan bercadar.

Senin malam, 16 Maret 2009

Habis Isya’, saya baru pulang dari sekolah. Hhh… capek! Ya, mau gimana lagi? Begitulah resikonya jadi sie acara, harus menyiapkan segala sesuatunya untuk acara besok. Hm.. sebenarnya saya tidak mau jadi sie acara, tapi… mau gimana lagi? teman saya (yang jadi pejabat sekolah, juga yang meminjamkan laptopnya ini) memaksa. Ya, jadilah saya (perempuan sendirian hehe..) bekerja di antara bapak-bapak guru (sesama team) karena teman saya perempuan yang satu lagi sudah ijin pulang duluan sedari sebelum Asar tadi. Ya, untunglah saya tidak punya perasaan apa-apa terhadap bapak-bapak guru itu, sebab kalau tidak, waduh… bisa grogi saya dibuatnya hehe...

Sesampainya di rumah saya berfikir, besok jadi pakai cadar atau tidak ya? Hm.. pakai jajalah. Ya, sudah saya putuskan, besok pagi saya akan memakai cadar. Tapi karena saya tidak punya cadar, jadi harus pinjam dulu. Pinjam di mana? Hehe.. tentu saja di orang. Alhamdulillah… teman-teman saya banyak yang punya cadar, jadi tidak masalah. Hm..sebenarnya teman-teman saya ini bukanlah perempuan bercadar, akan tetapi mereka pernah memakai cadar. Karena beberapa alasanlah kemudian cadar itupun dilepas. So, jadilah malam ini, jam sembilanan lebih saya ajak teman kos saya yang baru saja pulang kerja untuk menemani saya pergi meminjam cadar. Sedang baju abaya (baju hitam ala Arab) dan kerudung lilitnya (yang juga berwarna hitam) saya sudah punya, jadi tak perlu pinjam lagi.

Selasa, 17 Maret 2009

Hari ini adalah hari pelaksanaan acara Farabi da Mair. Hehe…sepertinya agak malu juga pakai baju abaya ke sekolah. Sebenarnya saya sudah sering dan juga terbiasa memakai baju abaya, tapi itu di lingkungan sini, bukan di lingkungan sekolah. Ya, teman-teman saya (sesama guru) mayoritas bukanlah orang-orang Arab dan tidak hidup dalam budaya Arab, walaupun siswa-siswanya mayoritas orang Arab hehe.. Mereka tidak terbiasa dengan abaya kecuali hanya beberapa orang saja. Tapi biarlah… toh hari ini memang dianjurkan untuk memakai baju Arabi, jadi kalau saya pakai baju abaya begini ya…justru itu bagus hehe..

Ya, baju sudah dipakai, juga cadarnya. Hanya mata saya saja yang terlihat sedang yang lainnya gelap hehe... hitam maksudnya. Ya, dari atas sampai bawah semuanya serba hitam, tasnya juga, kecuali kaos kaki yang berwarna coklat, tapi itupun tidak terlihat karena tertutup baju dan sepatu. Selanjutnya bagaimanakah rasanya jadi perempuan bercadar? Hm.. sebentar lagi saya akan merasakannya, karena sudah saya putuskan, saya akan memakai cadar dari rumah tidak di sekolah.

Keluar dari pintu saya berjalan, hm.. sepertinya tidak terlalu berbeda. Apa yang saya lihat tetaplah sama seperti biasa, bedanya kali ini orang-orang tidak bisa melihat saya (hehe.. makhluk gaib kali ya…) maksudnya muka saya. Hanya saja memang saya merasa agak berbeda. Saya tidak ingin tangan saya terlihat, padahal biasanya juga terlihat. Maka saya berbuat sedemikian rupa agar tangan saya tertutupi. Hm..perempuan bercadar itu, apakah mereka biasanya memakai sarung tangan? Saya kurang tahu, tapi sepertinya begitu.

Sampai di ujung jalan, aduh…macet! Gimana nih…? Padahal sudah jam tujuh, bisa terlambat saya. Kalau tidak sedang memakai cadar begini mungkin sudah saya putuskan untuk naik ojek saja. Tapi sekarang saya sedang bercadar, mana ada perempuan bercadar yang naik ojek? Kalau naik ojek, itupun pasti ojek suami hehe.. Perempuan bercadar itu adalah perempuan yang terjaga dan menjaga diri (dari lelaki). Tidak boleh sembarangan, kalau tidak naik mobil/kendaraan pribadi maka biasanya naik taksi, itupun juga harus ditemani agar tidak beruzlah sama abang taksi hehe.. begitulah yang saya tahu dan lihat. So akhirnya saya putuskan untuk naik metro mini saja hehe… aduh…kok lama banget ya? Udah macet, pake lama lagi! duh repotnya kalau jadi perempuan bercadar yang tidak punya fasilitas sendiri hehe… Lagipula sepertinya juga jarang sekali ada perempuan bercadar yang naik metro mini. Para suami ataupun ayah, biasanya tidak akan membiarkan istri ataupun anak gadisnya berdesak-desakan ataupun ikhtilath bersama lelaki yang bukan mahrom. Jadi, alhasil kemudian banyak perempuan bercadar yang terkurung di rumah. Ya, mereka hanya boleh dan bisa keluar bila mendapat ijin dari suami ataupun ayah mereka saja. Ya, begitulah yang saya lihat pada perempuan bercadar yang ada di sekitar saya, yang kebetulan setiap hari saya berinteraksi dengan mereka karena setiap hari saya mengajar ngaji putra-putri/adik mereka.

Hm.. kalau menurut saya, sebenarnya cadar itu tidaklah membatasi perempuan. Nyatanya, walaupun bercadar dan berhijab aisyah ummul mu’minin tetap bias eksis dalam menyebarkan ilmu dan meriwayatkan hadis. Bahkan separuh agama berasal darinya. Tapi ya… memang sih, jadi perempuan bercadar itu agak repot hehe.. sampai mau ngojekpun (maksudnya naik ojek) tidak bisa. Padahal, tidak ada fatwa MUI yang menetapkan bahwa perempuan bercadar itu tidak boleh naik ojek hehe…tapi kalau tetap nekat naik ojek ya... waduh… apa kata dunia?

Ya, akhirnya metro minipun datang juga, tapi penuh. Hiks..hiks.. terpaksa saya harus berdiri. Aduh… kasihannya! Tapi sejurus kemudian ada seorang bule yang mempersilahkan saya duduk di sebelahnya, saya terima saja. Tapi aduh.. duduk sama lelaki begini kok gak enak sekali rasanya ya..! Apalagi bapak bule yang berada di sebelah saya ini beberapa kali melihat dan memperhatikan saya. “Kenapa pak? Belum pernah lihat orang bercadar ya?”, kata saya dalam hati. Dan sayapun memalingkan muka saya ke arah yang lain. Beberapa saat kemudian, “excuse me…”, kata saya. Alhamdulillah… akhirnya saya bisa turun dan terbebas dari bapak bule tadi hehe..

Sampai di sekolah, acara sudah dimulai. Aduh, ini sie acara kok terlambat datangnya ya? La ba’sa hehe.. kan dah ada teman-teman lain yang menghandlenya. Lagi pula ini acara milik semua, bukan hanya tanggung jawab sie acara saja, dan lagi pula saya bukan satu-satunya sie acara, jadi tanbah la ba’sa hehe. Kemudian sayapun langsung naik ke lantai dua menuju kantor ibu guru, urusan absen belakangan saja. Di koridor sekolah lantai dua saya bertemu dengan dua orang ibu guru yang senyum-senyum melihat saya. “Bu Fitri ya?”. “Loh kok tahu?”. “Iya , dari jalannya. Makanya kalau jalan itu yang pelan, yang lembut”. Hehe.. aduh ibu gak tahu ya… saya ini mantan cewek tomboy. Jadi, saya memang sudah terbiasa jalan begini. Kalau dulu, wah.. lebih parah lagi, sama sekali tak ada lembut-lembutnya. Kalau jalan mirip lelaki, bajunya juga, hampir tidak pernah pakai rok, selalu saja pakai kaos dan celana. Hm.. ya udah, saya lembutin deh jalannya.

Di depan pintu ruang ibu guru, hehe.. pura-pura celingukan ah… pura-pura nyari siapa gitu. Hehe..semua pada lihat saya. Lalu sayapun masuk sambil tetap pura-pura celingukan, saya ajak salah seorang ibu guru salaman. Ibu guru yang saya ajak salamanpun bertanya-tanya wajahnya. Lalu, sambil tertawa sayapun membuka cadar saya hehe…”Aduh bu Fitri… saya kira tadi siapa? Kalau orang tua siswa… sepertinya bukan. Saya kira tadi anak kelas enam siapa itu…yang suka usil?”.

“Bu Nil… ini sudah saya bawakan baju dan cadarnya, katanya mau pakai”.

“Aduh, bu Nil… sebenarnya saya malu loh pakai cadar. Tapi kalau tidak dipakai, saya juga malu pakai baju begini, jadi ya… dipakai aja cadarnya hehe…”

“Sebaiknya dipakai tidak ya…cadarnya?”

“Ya udah, saya turun dulu ya…”

Di samping tangga, bertemu dengan Vava anak kelas dua yang berwajah imut mirip boneka.

“Bu Fitri ya? masa ini bu Fitri? Pasti bukan?” kata Vava sambil salaman.

“Iya Vava, ini memang bu Fitri”

“Ah.. bukan, pasti bukan” katanya sambil berlalu.

Hm.. kenapa Vava tidak percaya ya? Tapi hebat juga dia bisa mengenali saya. Sampai di bawah, bertemu dengan anak-anak kelas enam.

“Bu Fitri ya?”

“Eh…bu Fitri.. Assalamu’alaikum bu..”, kata mereka sambil salaman.

Aduh, kok anak-anak bisa tahu sih? Padahal kan sudah dilembutin jalannya.

“Kok kalian bisa tahu sih?”

“Iya, bu. Dari matanya”

Wah, hebat sekali mereka, bisa mengenali orang hanya dari matanya saja. Padahal, saya sendiri kalau bertemu dengan perempuan bercadar yang saya kenal, saya belum bisa mengenali mereka sebelum mereka bersuara.

“Bu Fitri dah dapat snack belum? Ini snack buat bu Fitri” kata bu Tating yang kali ini kebagian tugas menjadi sie konsumsi.

“Makasih bu…hehe.. saya memang lapar, belum sarapan”.

Aduh, ini gimana nih makannya? Hehe.. ya sudah... masuk ruangan kelas saja, lepas cadarnya, trus makan. Hm.. ternyata perempuan bercadar itu juga tidak bisa makan sembarangan ya..? Repot sekali kalau makan dengan tetap memakai cadar. Saya jadi membayangkan, bagaimana ya.. perempuan bercadar kalau makan di restoran? Hm.. sepertinya lucu dilihatnya. Jadi apakah perempuan bercadar itu memang makhluk “domestik” yang hanya bisa bebas makan kalau berada di ruangan yang aman saja? Hm..kalau minum sih bisa diakalin pakai sedotan, tapi makan…? Ah… ini kan Cuma urusan makan saja, lagi pula kalau makan itu memang sebaiknya di ruangan tertutup, agar orang lain tidak ngiler dibuatnya hehe..

Di dalam ruangan ada bu Nita, “Aisyah…Fahrinya mana?”, kata beliau sambil tersenyum. “He..he…”, cuma itu jawaban saya. Hm.. tadi di ruang ibu guru juga ada yang berkata begitu, dan selanjutnya nanti juga ada yang berkata lagi seperti itu. Ya, memang tidak dipungkiri, film Ayat-ayat Cinta (juga novelnya) turut berperan penting dalam mempopulerkan cadar/burqo’ di Indonesia.

Saat makan tiba-tiba ada Ipeh dan Rasya (anak kelas enam) datang menghampiri, “Bu Fitri pakai cadar ya… mana? Hehe..ibu kan guru agama, jadi bagus bu hehe.. ayo bu tos..”. Dan sayapun tos dengan mereka hehe. Selanjutnya…

“Bu pinjam cadarnya ya…”, kata Rasya, anak kelas enam yang suka usil itu.

“Ya, tapi jangan lama-lama ya… Nanti cepet kembaliin lagi”.

He..he.. si Rasya ngapain ya? Hm.. bisa saya terka, dia memakai cadar itu di depan teman-temannya sambil tertawa-tawa. Beberapa saat kemudian diapun mengembalikan cadar itu kepada saya, dan sayapun memakainya lagi. Di luar (auning) masih berlangsung acara drama anak-anak yang cukup seru dan cukup menyedot perhatian anak-anak, guru dan tamu undangan. Di antara mereka semua, tidak banyak orang yang memakai cadar, hanya beberapa anak saja hehe.. Guru-guru yang lainpun, tidak ada yang memakainya. Ya, hanya sayalah yang ke-PeDe-an memakainya. Tentang hal ini, dari awal saya sudah tahu, tapi biar saja ah…

Di atap auning ada dua ekor unta juga matahari (replika) yang tergantung di sana. Hm…rasanya dua ekor unta itu sudah menyedot habis semua air yang ada, bahkan yang ada di udara. Dan matahari yang tergantung hanya beberapa meter di atas kepala rasanya semakin menambah panas saja. Dan sayapun jadi kegerahan. Hm.. dibuka aja ah cadarnya hehe… Ya, rupanya masalah selanjutnya bagi perempuan bercadar adalah “gerah”. Akan tetapi, masalah itu mungkin tidak akan lagi jadi masalah kalau sudah terbiasa. Ya, seperti jilbab, banyak orang-orang yang tidak berjilbab berkata: “Apa tidak kegerahan?”. Jawabannya tentu: “Gak tuh, biasa aja”. Demikian juga cadar, kalau sudah terbiasa mungkin sudah tidak gerah lagi, bahkan kalau sudah terbiasa mungkin rasanya akan sangat tidak enak bila tidak memakai cadar. Jadi selanjutnya, apakah kamu akan bercadar Fit? Untuk saat ini tidak, tapi nanti… tidak tahu. Yang jelas cadar itu banyak sekali konsekwensinya. Dan yang jelas lagi masyarakat kita juga belum siap dengan cadar. Ya, mungkin saja kalau saya tinggal di suatu daerah yang labudda harus bercadar, atau yang masyarakatnya sudah “berbudaya” cadar, atau suami saya (hehe..) menyuruh saya untuk bercadar, mungkin saja saya akan menjadi “perempuan bercadar”.

Di panggung, acara drama sudah selesai, berarti selesailah sudah acara maulid. Acara selanjutnya adalah lomba-lomba Arabi, meliputi lomba cocok mufrodat, nasyid Arab, zikir mufrodat, hiwar dan debat mufrodat. Selain itu juga lomba mewarnai dan membuat kaligrafi. Untuk dua lomba terakhir ini dilaksanakan di kelas, sedang lomba-lomba yang lain dilaksanakan secara bergantian di atas panggung. Dan kalau rangkaian acara maulid tadi dipimpin oleh MC (anak-anak) dengan menggunakan bilingual Arab-Indonesia, maka acara lomba-lomba selanjutnya adalah giliran sie acara. Ya udah, biar bapak guru aja deh yang mimpin. Tapi selanjutnya, sepertinya bapak gurunya agak kabur dengan rangkaian acaranya. Maklum, dari awal sayalah yang lebih berperan dalam menset jadwal acara, tentu saja dengan petunjuk dari ketua pelaksanannya. “Bu Fitri aja deh yang lebih tahu…”, katanya. Ya udah, selanjutnya sayapun beraksi bagai MC professional yang gape bercuap-cuap di depan panggung. Hehe.. padahal saya tidak begitu. Tapi aduh.. by the way kok lama banget ya lombanya, padahal saya sudah capek nih... Maka sebelum acara berakhir, “Pak Muchlasin, untuk lomba debat mufrodat nanti bapak aja yang pimpin ya…”, kata saya pada pak Muchlasin, ketua pelaksana Farabi da Mair sekaligus guru bahasa Arab di sini. Beliaupun mengangguk. Alhamdulillah… selanjutnya sayapun naik ke lantai dua untuk makan dan istirahat.

Dan kembali pada perempuan bercadar. Perempuan bercadar itu…

5 komentar:

Noura Qalbi mengatakan...

Hehe..ceritanya seru loh... yang tadinya mau naik ojek.. akhirnya gak jadi hehe.. trus di metro mini dilihatin sama bule hehe.. trus waktu mau makan.. aduh repotnya.. trus.. hehe..

Hm..belum juga selesai nulisnya.. udah dikomentarin sendiri..

MUH. MAIMUN M mengatakan...

kalau belum selesai... bisa diedit lagi nanti bisa ditambakan toh... bisa tulis ditempat mana saja sampai selesai sebelum dipublis, begitu... bu...:-P

pencinta bahasa mengatakan...

salam kenalan..
saya baru tahu kalau masyarakat indonesia panggilnya cadar..kalau di malaysia namanya purdah..masyarakat di sini sudah biasa sama imej memakai purdah..jadi kemungkinan utk diperhatikan itu jrg sekali berlaku..sekolah di mana mbak mengajar itu sekolah goverment atau private?

Vennisa mengatakan...

seru bgt ceritanya... tertarik bacanya.. jadi pelajaran juga soalnya saya tertarik untuk memakai cadar...

UMMU MARYAM mengatakan...

assalaamu'alaykum..
perempuan bercadar itu...
hmm, saya perempuan bercadar,,,alhamdulillah sy tdak merasakan hambatan-hambatan dalam malakukan aktifitas, alhamdulillah Allah menjaga dari mulai anggota tubuh sampai ke qolbu sy, alhmadulillah..saya juga sekolah, kuliah dan sekrg berkeluarga..alhamdulillah gak pernah lg naik ojek...yg ada boncengan sm suami kemana-mana, Allah Maha Tahu kesulitan para hamba wanita yg mau menjaga iffah dirinya( dulu sempat naik ojek waktu susah di suruh pake jilbab ma ortu)

salam kenal ukhtiy...